Kamis, 15 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Blitar

Program Peduli Disabilitas Pemkab Blitar Sabet Good Practice Awards

Otonomi Award Ayo Inklusif 2018

Rabu, 24 Oct 2018 12:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

BERBUAH MANIS: Dari kiri Sekdaprov Heru Tjahjono, Dirut PT Jawa Pos Koran Leak Kustiya, Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Bupati Blitar Rijanto. Bupati Rijanto menerima Penghargaan Good Practice Awards (Otonomi Award Ayo Inklusif) 2018 di Hotel Shangri-La,

BERBUAH MANIS: Dari kiri Sekdaprov Heru Tjahjono, Dirut PT Jawa Pos Koran Leak Kustiya, Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Bupati Blitar Rijanto. Bupati Rijanto menerima Penghargaan Good Practice Awards (Otonomi Award Ayo Inklusif) 2018 di Hotel Shangri-La, (PEMKAB BLITAR FOR RADAR BLITAR)

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar kembali meraih penghargaan bergengsi tingkat nasional. Akhir tahun ini pasangan Bupati Rijanto dan Wakil Bupati (Wabup) Marhaenis Urip Widodo menerima penghargaan Good Practice Awards (Otonomi Award Ayo Inklusif) 2018. Penghargaan diserahkan pada Senin (22/10) di Shangri-La Hotel Surabaya.

 Penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi dari Konsorsium Ayo Inklusif! kepada kabupaten/kota dan pelaku usaha di Jawa Timur (Jatim) yang memiliki program-program inovasi di bidang inklusi dan disabilitas.

Bupati Rijanto menyatakan tidak mudah bisa meraih prestasi bergengsi tingkat nasional. Sebab untuk mendapatkan penghargaan, tidak hanya dibutuhkan kerja keras dan kekompakan, tapi juga ide dan inovasi.

“Tidak semudah membalik telapak tangan. Jauh-jauh hari kami sudah memikirkan ide, gagasan, dan konsep yang inovatif sebelum membuat program,” ungkapnya.

Nah, ide, gagasan, dan konsep yang inovatif juga dibarengi dengan implementasi di lapangan. Tidak hanya pemerintah, partisipasi masyarakat atau relawan dan pihak terkait harus bisa gotong royong menerapkan suatu program agar berjalan sesuai harapan.

 Di masa kepemimpinannya, ada sejumlah program yang diterapkan. Salah satunya program khusus bagi penyandang disabilitas. Akhir tahun lalu, Pemkab Blitar me-launching Program Kampung Peduli Disabilitas Kabupaten Blitar dan mengukuhkan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), Harapan Mulya, Desa Resapombo, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar.

Kampung ini ditunjuk menjadi program peduli disabilitas karena memiliki 50 warga penyandang disabilitas intelektual inklusi. “Pertimbangan tersebut menjadikan Desa Resapombo dipilih sebagai Kampung Peduli Disabilitas Kabupaten Blitar berbasis komunitas,” ujarnya.

Orang nomor satu di Pemerintah Kabupaten Blitar ini menyampaikan, Kabupaten Blitar menjadi satu-satunya kabupaten yang memiliki Kampung Peduli Disabilitas berbasis komunitas.

Untuk itu, dia minta agar aparatur sipil negara (ASN) sampai perangkat desa menggunakan hasil karya penyandang disabilitas, batik ciprat resapombo. “Kampung Peduli Disabilitas telah menghasilkan beberapa produk dan karya dari puluhan penyandang disabilitas,” jelasnya.

Beberapa kegiatan telah dilakukan dalam membentuk kampung peduli disabilitas. Dimulai dengan menggelar sosialisasi Entrepreneurship, Network Planning, dan Marketing bagi usaha batik percik. Dengan pembicara dari Kelompok Kajian dan Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (K2PU) Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya Malang dan Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (BBRSBG) “Kartini” Temanggung, Kementerian Sosial RI. “Sebelum membuat program tersebut, kami melibatkan semua pihak agar program tersebut bisa berjalan sesuai tujuan dan harapan,” urainya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Blitar Romelan mengatakan, ada beberapa kiat dan program yang telah dilaksanakan. Karena itu, tahun ini Pemkab Blitar berhasil menyabet penghargaan bergengsi tingkat nasional.

Jauh sebelumnya pada Maret 2016, kantornya membentuk Rehabilitasi Sosial Berbasis Masyarakat (RBM) yang terdiri dari 10 relawan berbasis masyarakat. Diketuai oleh Edy Cahyono dan diwakili oleh Sugik (tokoh masyarakat dari komunitas penyandang disabilitas dan juga seorang penderita difabel), TKSK (tenaga kesejahteraan sosial masyarakat), tokoh agama, serta tokoh masyarakat.

“Banyak kegiatan dan pekerjaan yang kami lakukan sebelum membentuk Kampung Peduli Disabilitas,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, setelah terbentuk tim RBM, selanjutnya dilakukan himpun data jumlah penderita disabilitas yang ada di Kabupaten Blitar. Dari data yang diperoleh, kemudian dilakukan analisis secara menyeluruh untuk mengetahui kecamatan dengan jumlah difabel terbanyak dan data yang diperoleh valid.

 Selanjutnya dilakukan analisis terhadap berbagai produk yang akan dijadikan sebagai komoditas utama. Yaitu olahan makanan, hasil gunung, produk-produk hasil recycle limbah kayu, dan batik ciprat.

“Berbagai survei dan pendataan kami lakukan sebelum menentukan lokasi untuk menjalankan program peduli disabilitas,” jelasnya.

 Selain itu, juga diberikan pelatihan terhadap relawan pendamping produksi. Dengan harapan nantinya siap mendampingi penderita disabilitas dalam berkarya. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata batik ciprat yang dipilih menjadi komoditas unggulan.

Itu karena digemari oleh masyarakat, pemasaran dan pembuatannya mudah, sederhana dan hasilnya bagus, serta masih bisa dilakukan secara mandiri oleh para penderita disabilitas.

 Batik ciprat telah beberapa kali diikutsertakan dalam pameran-pameran baik yang digelar di tingkat provinsi maupun nasional oleh dinas perindustrian dan perdagangan. Batik ciprat respamobo diharapkan dapat semakin dikenal di penjuru nusantara.

“Banyak kegiatan yang kami lakukan. Mulai dari praprogram hingga menjalankan program. Dengan demikian, penghargaan yang kami raih memang dari bawah dan tidak semudah membalikkan telapak tangan,” imbuhnya. (hms/ful/ed/ziz)

(rt/ang/ang/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia