Rabu, 11 Dec 2019
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Medsos Timbulkan Rasa Cemas

29 Oktober 2018, 11: 00: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

MEDIA SOSIAL: Sekelompok remaja asyik bermain gadget. Penggunaan medsos yang berlebihan dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental.

MEDIA SOSIAL: Sekelompok remaja asyik bermain gadget. Penggunaan medsos yang berlebihan dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

TULUNGAGUNG – Di era milenial, media sosial (medsos) bukan lagi menjadi sesuatu yang aneh. Tak jarang, seseorang dapat memiliki beragam akun medsos sekaligus, seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan YouTube. Selain untuk berkomunikasi jarak jauh, medsos juga dapat memenuhi kebutuhan lain. Seperti mencari informasi atau pun mengabarkan kegiatan sehari-hari dalam status.

Namun, bersamaan dengan itu, muncul juga dampak negatif dari medsos. Salah satunya dampak bagi kesehatan mental.

Konsultan psikologi, Ifada Nur Rohmaniah menjelaskan bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik, tapi kerap disepelekan oleh masyarakat. Beberapa dampak negatif dari medsos adalah menimbulkan rasa kecemasan, depresi, kesepian, bullying, dan meningkatkan rasa takut akan ketertinggalan atau fear of missing out (FOMO). 

Dia melanjutkan, menjadi pengguna aktif maupun pengguna pasif sama-sama membawa dampak. Terlebih jika tidak bisa lepas dengan medsos.

“Pengguna pasif ini tidak mem-posting, tapi membaca timeline. Sedangkan pengguna aktif mem-posting dan juga membaca timeline. Keduanya dapat berdampak buruk dan baik,” jelasnya.

Wanita berambut pendek ini menyatakan, medsos mulai menjadi masalah ketika individu mengabaikan lingkungan sekitar dan hanya berfokus pada gadget. Pasalnya terlalu sering beraktivitas di medsos dapat meningkatkan rasa kecemasan pada diri sendiri. Itu dipicu  dalam bermain medsos dapat menciptakan kompetisi. Ketika seseorang menelusuri medsos dan melihat kehidupan orang lain, akan cenderung membandingkan dan memberi nilai pada diri sendiri. Jika sudah demikian, seseorang akan membuat perbandingan apakah lebih baik atau lebih buruk dari orang lain.

“Jika kita sudah membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, masalah mulai timbul. Sebab, kita tidak puas dengan apa yang ada pada diri kita,” tandasnya.

Dampak lain, kata dia, yakni fear missing out (FOMO) merupakan suatu kondisi saat seseorang takut dikatakan tidak up to date dengan perkembangan informasi terkini. Seseorang yang sedang mengalami FOMO akan merasa selalu cemas. Ini yang dapat berpengaruh pada psikologis seseorang. 

“Ini seperti lingkaran setan memang. Takut dikatakan tidak up to date informasi. Untuk itu, individu akan terus menerus mengakses media sosial agar tetap terlihat eksis,” tandasnya.

Meski memiliki banyak teman atau followers di medsos, tidak menjamin seseorang pandai bergaul di kehidupan nyata. Ini karena otak memiliki keterbatasan dalam berinteraksi secara virtual. Jika sudah demikian, rasa cemas dan kesepian dapat timbul dengan mudah.

Untuk itu, tetap diperlukan pentingnya berinteraksi secara langsung, bukan melalui virtual. Karena memiliki orang-orang yang dapat mendukung dalam kehidupan nyata, dapat berdampak lebih positif bagi diri sendiri.

“Memiliki teman di dunia nyata yang dapat mendukung jauh lebih berdampak positif daripada hanya sekadar mencurahkan pada posting-an media sosial,” jelasnya.

Di sisi lain, medsos tak selamanya membawa dampak buruk. Untuk itu, masyarakat khususnya usia remaja untuk memiliki kontrol diri. Membatasi penggunaan medsos dan memperluas pertemanan dengan orang-orang di sekitar menjadi upaya sederhana untuk meminimalkan dampak negatif medsos.

“Memang poin pentingnya tetap pada diri sendiri. Selagi bisa menyeimbangkan antara dunia maya dan nyata, tidak menjadi masalah,” pungkasnya. (nda/ed/din) 

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia