Rabu, 11 Dec 2019
radartulungagung
icon featured
Trenggalek

Stroke Jadi Momok Paling Mematikan

29 Oktober 2018, 12: 00: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

Stroke Jadi Momok Paling Mematikan

TRENGGALEK – Penyakit stroke masih menjadi jawara penyebab terjadinya kematian di Kota Keripik Tempe. Tercatat, di semester pertama tahun ini hampir 100 orang meninggal lantaran stroke. Baik itu karena pendarahan maupun nonpendarahan. Sekitar 6 jam pascaindikasi stroke ternyata menjadi penentu penanganan penyakit tersebut.

Dari informasi yang berhasil dihimpun Koran ini, di 2016 ada 175 orang meninggal karena stroke. Tahun berikutnya, jumlah kematian karena stroke turun menjadi 20 orang. Sedangkan pada semester pertama tahun ini ada sekitar 96 orang meninggal gara-gara stroke.

Sujiono, Humas RSUD dr Soedomo menyebut, salah satu faktor pemicu tingginya jumlah kematian salah satunya karena pengetahuan masyarakat yang masih terbatas mengenai penyakit tersebut. Secara umum, gejala stroke sangat mudah diketahui. Salah satunya kelumpuhan salah satu anggota tubuh.

“Selain itu, jika ada riwayat hipertensi, harusnya segera dibawa ke rumah sakit,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, ada istilah “6 golden period” dalam penanganan penyakit tersebut. Artinya, 6 jam pascaserangan stroke menjadi penentu keberhasilan penanganan penyakit tersebut. Hanya saja, seringkali ditemui baru setelah lama dan tidak bisa ditangani sendiri lantas dibawa ke rumah sakit. Ini yang menjadi salah satu pemicu tingginya kematian karena stroke.

“Kami dirikan unit stroke untuk menekan angka kematian stroke,” ucapnya kemarin (28/10).

Umumnya, ada dua jenis stroke yang biasa terjadi di Kota Keripik Tempe. Yakni stroke perdarahan dan nonperdarahan. Perdarahan biasa terjadi saat pasien sedang beraktivitas. Sebaliknya, nonperdarahan saat pasien tidak sedang dalam aktivitas.

Sementara itu, Wahyu Kurniawan, salah seorang fisioterapis mengatakan, stroke itu gangguan pembuluh darah otak. Bisa dipicu oleh pembutuan di pembuluh darah atau pecahnya pembuluh darah di otak. Dampaknya, ada banyak hal mulai dari mulai dari kesulitan bicara, berjalan, gangguan penglihatan, hingga susah buang air besar.

“Karena yang terkena ini otaknya, prosesornya tubuh manusia,” ungkap dia.

Ada sejumlah faktor risiko yang bisa digunakan untuk mengantisipasi stroke. Selain usia, riwayat stroke, pola makan menjadi faktor pemicu stroke. Menurutnya, sepuluh persen pemilik riwayat stroke kembali terserang stroke.

“Hipertensi, diabetes, obesitas, dan olahraga tidak teratur juga rentan terhadap stroke,” sebut dia. (hai/ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia