Senin, 09 Dec 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Putut Hari Laksana, Penabuh Kendang Jaipong dan Perajin Barongan

31 Oktober 2018, 10: 30: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

TELATEN: Putut Hari Laksana saat membuat barongan di rumahnya kemarin (30/10).

TELATEN: Putut Hari Laksana saat membuat barongan di rumahnya kemarin (30/10). (AGUS DWIYONO/RATU)

Meski zaman sudah modern, bukan berarti meninggalkan budaya nenek moyang. Itulah prinsip hidup Putut Hari Laksana. Warga Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, ini menekuni kerajinan pembuatan barongan. Dari situ, pria 27 tahun tersebut memperoleh pundi-pundi pendapatan.

AGUS DWIYONO

Selasa kemarin (30/1) sekitar pukul 11.30, Putut Hari Laksana tampak sibuk mengerjakan pembuatan barongan dengan mengukir di atas balok kayu di rumahnya.

Setelah Koran ini mendekat, ukiran itu ternyata membentuk pola kepala naga.

Di samping Putut, ada beberapa bahanpembuatanbarongan berserakandilantai. Mulai daripahat,palu,cat,serta balok kayu sudah dipahat.

“Ada kepala barongan yang hendak dipahat atau diukir, ada yang sudah jadi,” jelasnya sambil sibuk memahat balok kayu.

Dia menceritakan, awal mula membuat kerajinan barongan lantaran suka melihat atribut kesenian jaranan. Berawal dari kelas VII SMP. “Dulu suka wayang kulit. Sejak SMP itu mulai menggandrungi wayang kulit,” jelasnya.

Dia sempat beberapa kali membuat wayang kulit. Mulai dari bahan kardus hingga kulit asli untuk dijual kepada pecinta wayang. Namun setelah berjalan beberapa tahun, peminat wayang semakin sedikit.

“Saya membuat wayang untuk dijual kembali, ternyata peminatnya tidak sebanyak barongan atau jaranan. Kalau kerajinan wayang lebih lama lakunya,” ungkapnya.

Dari situlah dirinya beralih ke kerajinan barongan. Bapak satu anak ini terhitung sudah menekuni kerajinan tersebut sekitar 10 tahun sejak lulus SMP hingga sekarang.

Untuk membuatsatubarongan, setelahadapemesan butuh waktu sekitardua bulan baru selesai. Tercepathinggasatubulanselesai. Itu pun jikadikerjakanlembur.

“Membuat barongan tidak bisa dibatasi, tergantung mood. Jika dipaksa, akan berpengaruh hasilnya,” ungkapnya.

Untuk proses pembuatan barongan, terlebih dulu menyiapkan potongan kayu balok sesuai ukuran. Lantas dibelah menjadi dua bagian, nanti setiap kayu menjadi kepala bagian atas dan bawah. Dilanjutkan pembentukan pola dengan melakukan penggambaran.

“Semua nanti dipola sesuai keinginan pemesan. Entah nanti model barongan klasik, modern, Kediri, Tulungagung, dan lain-lain,” jelasnya.

Setelah itu, langkah berikutnya memahat sesuai dengan pola yang ditentukan. Pembuatan pola tidaklah mudah. “Bagian tersulit adalah memahat mata barongan, membuat barongan itu mempunyai aura atau seolah-olah hidup,” ujarnya.

Alhasil, hingga kini karyanya sudah dikenal hingga luar daerah. Mulai dari Kalimantan, Papua, serta kota-kota terdekat seperti Surabaya, Malang, dan lain sebagainya. Harga yang ditawarkan bervariasi, dari Rp 4 juta hingga Rp 5 juta lebih.

Pria 27 tahunitumengaku, selain menekuni kerajinan pembuatan barongan,juga membuatkendang. Itupunjika adapesanan.

“Saya bisa memainkan kendang jaipong yang kendangnya ada tiga itu. Jika tidak ada tanggapan, saya di rumah memilih membuat barongan dan kendang,” ujarnya. (*/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia