Minggu, 21 Jul 2019
radartulungagung
icon featured
Blitar

Dinkes Temukan 10 Jamu Kandung Zat Berbahaya

01 November 2018, 12: 30: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

Ilustrasi

Ilustrasi (JawaPos.Com)

TULUNGAGUNG – Masyarakat tampaknya harus waspada dalam mengonsumsi jamu. Khususnya jamu tradisional instan. Pasalnya, masih banyak ditemukan jamu tradisional instan mengandung bahan berbahaya.

Dihimpun dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, hingga triwulan kedua tahun 2018 telah tercatat10 produk jamu tradisional berbahaya. Produk-produk itu antara lain Xian Tong Wan Tong Herbalinsdo SM; Buah Naga; Montalin; Okura; Gusi Linu (Gulin); Sakit Gigi; Sakit Gigi Pak Tani; Asam Urat Pwegal Linu; dan Brastomolo Kecetit.

Produk-produk jamu tradisional ini disita karena tanpa izin edar (TIE) atau memiliki izin edar fiktif.

Kasi Kefarmasian dan Perbekalan Kesehatan Dinkes Tulungagung Masduki mengaku, selain tak miliki izin edar, juga terdapat kandungan berbahaya dalam produk tersebut. Seperti asam mefenamat, penilbutazon, dan dexametazon. Semua bahan ini tergolong dalam obat keras. Seharusnya pengunaannya sesuai dengan resep dokter.

“Bahan-bahan berbahaya ini jika dikonsumsi dapat menyebabkan gangguan kesehatan,” jelasnya.

Dia melanjutkan, jamu-jamu tradisional ini ditemukan dinkes di sarana distribusi ketersediaan farmasi, apotek, toko obat, dan kedai jamu di lima kecamatan.

Yakni Kecamatan Tulungagung, Ngunut, Rejotangan, Sendang, dan Besuki. Beberapa jenis jamu tradisional yang kerap kali mengandung bahan kimia berbahaya adalah jamu untuk keju linu, pelangsing, obat kuat, dan sakit gigi.

Dia menjelaskan, efek kesehatan yang didapat antara lain pengeroposan tulang serta kerusakan sel darah, sistem metabolisme tubuh, dan organ tubuh.

“Karena takaran obatnya ngawur, akan berimbas pada kesehatan. Salah satunya ya kerusakan organ tubuh,” tandasnya.

Jamu merupakan pengobatan khas Indonesia yang diyakini hampir tidak berefek samping. Selain itu, kekhasan dari jamu berasal dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia sehingga dinilai lebih aman dari obat kimia. “Jamu tradisional memang cenderung lebih aman. Namun menjadi tidak aman jika jamu-jamu ini dicampur dengan bahan obat keras,” tandasnya.

Pengaruh gaya hidup yang serba ingin instan menjadi salah satu faktor jamu instan masih menjadi primadona bagi masyarakat. Namun ini dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan mencampurkan bahan baku dengan bahan kimia.

Dia mengatakan, sebenarnya jamu tradisional memiliki banyak manfaat. Terutama untuk pencegahan penyakit dan menjaga daya tahan tubuh. Untuk itu, kebiasaan meminum jamu tradisional tidak salah. Hanya saja harus tetap waspada, terlebih untuk jamu tradisional instan.

Dia mengimbau masyarakat untuk melakukan pengecekan terlebih dahulu. Selain itu, konsumsi jamu murni dinilai lebih aman dibandingkan dengan kemasan instan.

“Jamu-jamu yang biasanya dijual mbok jamu itu lebih aman karena tidak ada kandungan kimianya dan proses pembuatannya pun masih alami,” pungkasnya.

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia