Jumat, 22 Nov 2019
radartulungagung
icon-featured
Features
Melihat Grup Kethoprak Siswo Budoyo Tampil Lagi

Sarana Bernostalgia, Penonton Enggan Tinggalkan Kursi Hingga Bubar

Lihat Aksi Mereka Dalam Video

13 November 2018, 22: 00: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

MENGHIBUR: Salah satu adegan Adipati Surowiyoto saat terlempar dari singgasana Kerajaan Demak Bintoro.

MENGHIBUR: Salah satu adegan Adipati Surowiyoto saat terlempar dari singgasana Kerajaan Demak Bintoro. (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

Tulungagung pernah memiliki satu kelompok kethoprak legendaris Siswo Budoyo. Namun dengan berjalannya waktu, grup kesenian ini pun akhirnya harus mengakhiri kiprahnya. Mereka tampil lagi dengan tajuk pentas kangen.

DHARAKA R. PERDANA

Diakui atau tidak, nama besar Siswo Budoyo memang cukup melegenda di benak penggemar kesenian kethoprak. Meskipun grup ini sudah lama vakum, banyak pakem kelompok seni asal Kalangbret ini masih digunakan untuk pentas pertunjukan. Tak mustahil, banyak warga masyarakat yang merindukan mereka untuk pentas lagi seperti dulu.

Dahaga masyarakat untuk melihat grup ini pun terobati pada Sabtu malam lalu. Dalam pergelaran bertajuk pentas kangen ini, para eks anggota Siswo Budoyo kembali tampil di atas panggung. Membawakan lakon Banjaran Penangsang, penampilan mereka membuat para penonton enggan beringsut dari kursi. Padahal pertunjukan mereka di halaman IAIN Tulungagung berlangsung hingga lima jam.

Deni Irawan, salah satu penonton mengatakan, dirinya memang penasaran seperti apa pertunjukan Siswo Budoyo. Walaupun sebenarnya dia tahu persis jika grup kesenian ini merupakan salah satu grup legendaris di kota kelahirannya itu. “Ya, ingin lihat saja. Apalagi mereka sudah lama tidak pentas, tentunya anggotanya banyak yang sudah sepuh,” tuturnya Sabtu (10/11) lalu.

LESTARIKAN BUDAYA : Penampilan kethoprak Siswo Budoyo, saat menghadirkan bintang tamu Yati Pesek, Jo Klitik, Jo Klutuk, serta pemain lainnya. (DHARAKA R.PERDANA/RADARTULUNGAGUNG)

Meskipun demikian, dia mengaku, puas dengan pementasan tersebut. Karena setiap pemain bisa membawakan tokoh dengan maksimal. Apalagi dalam lakon Banjaran Penangsang ini menceritakan berbagai intrik dalam Kerajaan Demak Bintoro hingga Pajang yang dipicu suksesi. Hal ini secara tidak langsung memang menggambarkan kondisi politik yang ada saat ini. “Cukup puas melihatnya, meskipun durasi waktunya memang lama,” terang warga Boyolangu ini sambil tertawa.

Saat pementasan dimulai Jo Klithik dan Jo Kluthuk yang didapuk menjadi pelawak mengatakan sangat senang dengan adanya pementasan ini. Apalagi semua bisa bernostalgia mengenang zaman kejayaan Siswo Budoyo dulu yang sudah vakum sekitar dua dekade. Di mana semua sudah dianggap sebagai keluarga sendiri, meskipun ada sebagian yang sudah meninggal dunia. “Takkarepke pementasan bisa rutin digelar. Yen perlu sewulan ping telu (Saya berharap pementasan bisa rutin digelar. Sambil bernostalgia. Kalau perlu sebulan tiga kali),” kata Jo Kluthuk disambut tawa para penonton.

Sementara itu, Agus Timur yang saat itu kebagian peran Sunan Kudus atau Raden Jafar Shodiq mengatakan, pementasan tersebut digagas oleh Forum Indonesia Abadi. Tentunya hal tersebut membuatnya bersemangat untuk tampil di atas panggung. Apalagi kesempatan ini juga sekaligus untuk menunjukkan kepada masyarakat luas jika Tulungagung masih memiliki grup kesenian. “Dari kethoprak bisa mempelajari banyak hal. Karena ini merupakan refleksi atas apa yang ada di kehidupan nyata,” tuturnya.

Warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kauman ini menambahkan, untuk pemilihan lakon akhirnya memang mengambil Banjaran Penangsang. Itu merupakan sebuah lakon yang banyak memiliki pembelajaran mengenai tata kelola pemerintahan. Karena menceritakan perselisihan antara Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) dari Pajang dan Arya Penangsang dari Jipang Panolan. “Kami pun harus cermat memilih siapa saja yang bisa memerankan. Karena kami ingin semua mengenang Siswo Budoyo sebagai grup kethoprak legendaris,” jelasnya.

(rt/rak/did/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia