Rabu, 29 Jan 2020
radartulungagung
icon-featured
Features

Slamet Riyadi Pengelola Radio Komunitas, Juara Terbaik KPID Jatim

Sering Talkshow, Tak Sekadar Beri Informasi

20 November 2018, 22: 00: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

EKSIS : Slamet memegang piala penghargaan radio komunitas terbaik se-Jatim. Aktivitas siaran di radio komunitas Mitra Tani.

EKSIS : Slamet memegang piala penghargaan radio komunitas terbaik se-Jatim. Aktivitas siaran di radio komunitas Mitra Tani. (SLAMET RIYADI FOR RADAR TRENGGALEK)

 Tahun 90-an, radio menjadi salah satu media informasi yang cukup ngetrend dan menjadi teman setia masyarakat. Sayang, kondisi saat ini berbeda. Kecanggihan teknologi menuntut insan radio harus kreatif. Termasuk radio komunitas ‘Mitra Tani’ milik warga Desa Jombok, Kecamatan Pule yang berhasil raih penghargaan dari Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jatim.

AGUS MUHAIMIN

Berdirinya Radio Komunitas Mitra Tani di Desa Jombok, Kecamatan Pule ini memang cukup unik. Ceritanya, pada tahun 90-an kelompok tani setempat (Mugi Lestari,red) mendapatkan tugas atau proyek dari pemerintah provinsi melalui Dinas Pertanian.

Kala itu, kelompok tani tersebut mendapat tugas untuk merubah lahan kritis menjadi lahan produktif. Tak tanggung-tanggung luasnya ada sekitar 25 hektare. Beruntung, dalam prosesnya pemerintah sengaja menyediakan atau memperbaiki sarana jalan menuju lokasi serta anggaran untuk penataan irigasi.

Bukan di dataran, lokasi yang musti diubah menjadi lahan produktif ini ada di kemiringan 45 derajat. Sehingga tak gampang untuk mengelola lahan tersebut. Salah satu alternatifnya adalah menerapkan teknik pertanian teras bangku.

Ada banyak beberapa jenis tanaman yang bisa dimanfaatkan mengubah lahan kritis tersebut menjadi lahan produktif. Warga atau kelompok tani itu menanam tanaman tahunan atau musiman semisal palawija dan sayur. Di sisi lain, warga juga menaman sejumlah tanaman menahun semisal buah durian, manggis sirsak dan tanaman lainnya.

Lambat laun, upaya warga atau kelompok tani ini berbuah manis. Lahan kritis di desa tersebut telah berubah menjadi lahan yang hijau. Tepat pada tahun ke empat, pemerintah provinsi menggelar panen raya serta pameran teknologi pertanian di lokasi tersebut.

Nah, berbarengan dengan kegiatan ini, ada salah satu stasiun radio yang dibawa oleh pemerintah provinsi untuk menyiarkan acara-acara selama panen raya tersebut berlangsung. Sekitar tiga minggu lamanya, warga Desa Jombok, Kecamatan Pule, dekat dengan media informasi ini. Sebab, lokasi yang digunakan siaran adalah rumah salah seorang warga. “ Waktu itu rumah saya yang digunakan,” kenang Slamet Riyadi, kemarin (18/11).

Pria yang juga menjabat Kasun Jombok ini menceritakan, setelah panen raya selesai, aktivitas siaran radio itu pun rampung. Ada banyak warga yang menanyakan dan berharap ada radio lokal yang bisa menjadi sarana komunikasi dan informasi masyarakat setempat. “ Akhirnya kami nekat buat radio komunitas  bernama “Mitra Tani’ ini,” jelas dia.

Slamet riyadi menjadi salah satu inisiator pendirianya. Ia pula yang harus mengurus seabrek perizinan penyiaran agar stasiun tersebut legal. Padahal pengetahuan dalam bidang siaran tak dimilikinya sama sekali. Di sisi lain, bukan perkara gampang untuk mendapatkan izin tersebut. Ia mengaku ada banyak proses yang harus dilakukan. Padahal ada banyak tantangan lain untuk terus menghidupkan radio komunitas ini. “ Awalnya hanya radio brigde. Dalam perjalanannya ya timbul tenggelam, sudah mau mati tapi bangkit lagi,” ujarnya.

Sampai akhirnya sekitar  tiga tahun lalu, pihaknya mendapat izin penyelenggaraan penyiaran dari pemerintah (IPP) sehingga bisa beraktifitas dengan tenang.

Diakuinya, konten siaran di radio komunitas tesebut memang tidak jauh dari lingkungan petani. Mulai dari pertanian hingga peternakan. Seringkali pihaknya menghadirkan pihak-pihak dari dinas pertanian untuk memberikan penjelasan dalam bidang pertanian. “ Jadi, model talkshow gitu loh…ada tanya jawab dengan pendengar yang di rumah dalam bidang pertanian,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Slamet mengatakan, konten atau materi siaran radio ini kini mulai bertambah. Tidak hanya sekadar lingkungan tani, kini semua bidang biasa dimasukkan untuk memberikan variasi informasi kepada masyarakat. Mulai dalam bidang kesehatan, dana desa hingga kepolisian. “ Kami beraktivitas mulai  jam 5 pagi sampai jam 10 malam, ada 7 orang penyiar di sana,” jelas dia.

Menurut dia, yang menjadi kendala sekaligus tantangan dalam dunia radio kini adalah teknologi informasi yang kian canggih. Kendati biaya operasional siaran tidak begitu besar, namun pemasukan media siaran kini tak lagi rame seperti dulu. Akibatnya radio komunitas musti kreatif agar tetap bisa eksis. “ Kita kan harus juga mikir biaya listrik, dan tenaga penyiarnya juga,” katanya lantas tertawa.

(rt/muh/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia