Jumat, 06 Dec 2019
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Kantongi Data 13 Ribu Calon Peserta UNBK, Jika Salah Pengaruhi Ijazah

22 November 2018, 09: 23: 51 WIB | editor : Didin Cahya FS

TENANG: Sejumlah siswa ketika mengikuti KBM di laboratorium SMK 1 PGRI.

TENANG: Sejumlah siswa ketika mengikuti KBM di laboratorium SMK 1 PGRI. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RADARTULUNGAGUNG)

TULUNGAGUNG – Pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) tingkat SMA/SMK rencananya akan dilaksanakan Maret mendatang. Masih sama seperti tahun sebelumnya, UNBK dilaksanakan selama empat hari. Sejumlah persiapan pun mulai dilakukan.

Kasi SMA/SMK dan Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Cabang Dinas Pendidikan (Dispendik) Provinsi Jawa Timur (Jatim) wilayah Tulungagung Subagyo mengatakan, salah satu yang sedang dilakukan kini adalah pendataan jumlah peserta UNBK. Itu berkaitan dengan data peserta didik. Seperti nomor induk siswa nasional dan biodata siswa.

Dia melanjutkan, nantinya data peserta UNBK akan dikirim ke pusat. Setelah dikirim ke pusat, data dikembalikan pada setiap sekolah guna dilakukan verifikasi. “Kalau data salah, nantinya berakibat pada surat keterangan hasil ujian (SKHU) dan ijazah siswa,” terangnya ketika ditemui Kamis (22/11).

Agar UNBK berjalan lancar, dinas akan terus berkoordinasi dengan sekolah dan melakukan sosialisasi. Diperkirakan 13 ribu peserta didik akan ikut UNBK tingkat SMA/SMK.

Tak kalah penting, untuk mendukung suksesnya UNBK 2019, sarana dan prasarana (sarpras) pun turut diperhatikan. Untuk itu, diharapkan setiap sekolah melakukan pendataan terkait jumlah komputer dan laptop.

Dia belum menerima informasi mengenai distribusi komputer dan laptop dari provinsi. Jika melihat dari tahun lalu, ada lima sekolah yang menerima bantuan laptop. “Belum ada informasi apa pun. Tahun lalu ada lima sekolah yang menerima laptop. Setiap menerima lima buah laptop,” jelasnya.

Dia tak terlalu memusingkan hal tersebut. Karena sejumlah sekolah telah melakukan pengadaan sarana prasarana berupa komputer dan laptop. Jadi jumlah laptop dan komputer yang ada dinilai masih mampu memenuhi kebutuhan. “Setiap tahun kan digunakan. Jadi setiap sekolah memilih melakukan pengadaan,” jelas pria 56 tahun ini.

(rt/did/did/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia