Minggu, 16 Dec 2018
radartulungagung
icon featured
Sportainment

Muhammad Nur Aziz Wardana, Pemain IBL Asal Desa/Kecamatan Ngunut

22 November 2018, 09: 46: 10 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

SEMANGAT: Muhammad Nur Aziz Wardana ketika merebut bola dari lawan.

SEMANGAT: Muhammad Nur Aziz Wardana ketika merebut bola dari lawan. (MUHAMMAD NUR AZIZ WARDANA FOR RATU)

Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar dan mengukir prestasi. Itulah yang dirasakan Muhammad Nur Aziz Wardana. Warga Desa/Kecamatan Ngunut ini mampu masuk sebagai atlet dalam Indonesia Basketball League (IBL) 2018.

Tak mudah menemukan rumah Muhammad Nur Aziz Wardana yang berada di Jalan Recobarong, Desa/Kecamatan Ngunut. Maklum, pria dengan tinggi 194 sentimeter ini hampir setiap hari menghabiskan waktu di luar kota untuk berlatih dan berkompetisi basket.

Saat diwawancarai Koran ini, Wardana -sapaan akrabnya- menceritakan awal perjalanannya menekuni olahraga asal Amerika tersebut. “Saya dulu malah awalnya bermain sepak bola sama teman-teman. Kenal basket tahun 2011 saat kelas XI,” ujarnya.

Meski kerap bermain sepak bola, tak pernah serius dalam berlatih. Karena bermain sepak bola hanya sebatas berolahraga dan bersenang-senang.

Hingga akhirnya pria 24 tahun tersebut dapat tawaran bermain basket dari salah satu pelatih basket di sekolah. Dari tawaran itu akan mendapat uang saku dan beasiswa sekolah hingga lulus.

Itu menjadi motivasinya untuk mulai belajar basket. “Saat ditawarisamapelatih,saya berpikirini kesempatan bagus karena dapat meringankan bebanorangtua juga,”ujaralumnus Universitas Widya Kartika, Surabaya ini.

Dia memulai karir basket sejak ikut kejuaraan basket antar-SMK se-Jawa Timur. Berhasil meraih predikat juara I, lantas tak cepat berpuas diri. Justru kian terpacu untuk lebih baik dan semakin giat berlatih basket.

“Waktu itu pelatih saya bilang bahwa saya memiliki potensi dan membuat saya kian semangat berlatih,” terang sulung dari tiga bersaudara ini.

Setelah hampir setahun menekuni basket, pada tahun 2012 bersamaan dengan lulus pendidikan SMK, tawaran bermain di tim profesional pun datang. Wardana pun masuk menjadi tim Satria Muda, Jakarta.

Meski berhasil masuk dalam tim basket profesional, bukan berarti langsung dapat menjadi pemain inti. Dia pun harus giat berlatih untuk mengejar skill pemain-pemain lain.

“Nggak mudah memang untuk bisa masuk menjadi tim inti. Yang saya tahu hanya tetap berusaha, latihan rutin agar kemampuan kita dilirik,” tandasnya.

Dua tahun membela Satria Muda, atlet bernomor punggung 25 ini lantas bergabung dengan klub Pacific Caesar di Surabaya. Di situlah karirnya sebagai atlet profesional dimulai.

Tahun 2015, Wardana pun mendapat kesempatan membela tim nasional (timnas) Indonesia pada ajang The Southeast Asia Basketball Association (SEABA) 2015 di Singapura. Di tahun berikutnya, masih dipercaya membela timnas untuk laga SEABA 2016 yang berlangsung di Thailand.

Masih di tahun yang sama, pria kelahiran 25 September 1994 ini berhasil meraih medali perak dalam PON Jatim di Bandung.

Meski telah menuai sederet prestasi, Wardana membeberkan, salah satu kesulitan dalam bermain basket adalah pada komunikasi dengan teman-teman baru dalam satu tim.

Tak hanya itu, sebagai atlet profesional dituntut untuk cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. “Kuncinya sih tetap tekun berlatih, jangan setengah-setengah.

Pokoknya bagaimana caranya supaya bisa nggak cuma basket untuk cari keringat lalu pulang,” selorohnya seraya tertawa.

Pria yang mengidolakan atlet National Basketball Association (NBA) Lebron James ini mengaku beruntung, basket dapat mengubah hidupnya. “Banyak yang saya dapat di basket.

Mulai dari pengalaman dan teman, termasuk dapat membiayai kehidupan saya sendiri. Mungkin kalau bukan karena basket, saya masih tetap di Ngunut,” pungkasnya seraya tertawa.

(rt/ang/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia