Minggu, 08 Dec 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Ibu-Ibu Wali Murid SD 2 Sengon Buat Besek saat Tunggu Anak di Sekolah

01 Desember 2018, 13: 00: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

MENGHASILKAN: Ibu wali murid SD 2 Sengon sedang menganyam bambu di sekolah.

MENGHASILKAN: Ibu wali murid SD 2 Sengon sedang menganyam bambu di sekolah. (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

Menunggu tentu menjadi hal menjenuhkan bagi kebanyakan orang. Namun bagi wali murid di SD 2 Sengon di Kecamatan Bendungan tidak demikian. Mereka memiliki aktivitas rutin membuat besek atau anyaman bambu. Hasilnya lumayan, meski juga terpengaruh cuaca.

Sisa-sisa hujan yang mengguyur Kota Keripik Tempe, Kamis (29/11) malam, masih tampak jelas. Terutama di ruas jalan Ngares-Sengon kemarin (30/11). Medan naik turun ditambah luberan lumpur dari wilayah perbukitan di sepanjang ruas jalan ini menjadikan jalur cukup rawan dilalui. Begitu gambaran perjalanan ketika Koran ini bertandang ke SD 2 Desa Sengon, Kecamatan Bendungan.

Seperti suasana sekolah pada umumnya, pagi itu tampak hilir mudik siswa SD 2 Sengon yang kebetulan sedang beristirahat. Ada yang bermain dengan rekan sekelas, ada juga yang langsung menuju kantin di belakang sekolah untuk jajan.

Di salah satu sudut sekolah, tampak sejumlah ibu-ibu sibuk dengan lembaran-lembaran orotan bambu yang sudah dipotong tipis dan dihaluskan. Mereka terlihat serius tapi santai dan sesekali terdengar candaan di antara mereka.

Usut punya usut, mereka adalah wali murid siswa di sekolah tersebut. Mereka tidak langsung pulang seusai mengantarkan anak mereka ke sekolah. Maklum, tak jarang anak TK atau SD ingin ditunggui oleh orang tuanya. “Makanya daripada hanya ngerumpi, sambil bikin anyaman seperti ini,” ujar Risa seorang wali murid, sambil menyodorkan anyaman bambu berbentuk besek.

Kebiasaan membuat anyaman di sela-sela menunggu anak pulang sekolah ini sudah berlangsung sejak lama. Risa mengaku awalnya hanya ikut-ikut atau belajar mengayam dari ”senior” atau ibu-ibu yang mengantarkan anaknya sekolah. Kini generasi tersebut tidak lagi ditemui karena anak mereka sudah lulus dari sekolah tersebut.

Setidaknya ada sekitar 4 jam waktu luang sambil menunggu anak pulang sekolah. Yakni mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 11 siang. Waktu cukup panjang jika hanya digunakan sekadar ngobrol.

Dalam rentang waktu tersebut, Risa mampu menghasilkan sekodi atau 20 buah besek. Sedikitnya Rp 10.000-15.000 bisa dikantonginya. “Bahannya dibawa dari rumah. Di sini tinggal menganyam saja,” katanya sambil merapikan anyaman bambu.

Anyaman bambu ini akan dikirimkan kepada pengepul di daerah Tugu. Anyaman itu biasanya digunakan untuk bungkus keripik tempe atau tape. “Pokok gak hujan terus, harganya bisa bagus,” timpal Sulastri, wali murid lain.

Saat musim hujan, bambu tidak bisa kering secara sempurna. Akibatnya, anyaman tersebut rentan jamur. Ini sangat mempengaruhi harga jual anyaman tersebut. Untuk itu, tak heran jika harga jual anyaman bambu karya ibu-ibu wali murid tersebut tidak konsisten.

Bahkan pernah juga mereka terima kurang dari Rp 10.000 per kodi karena cuaca begitu lembap. “Kalau pas panas gitu harganya bisa sampai 15 ribu rupiah” imbuhnya tampak semringah.

Di lokasi terpisah, Neisi, seorang pegawai sekolah mengatakan, aktivitas yang dilakoni ibu-ibu tersebut cukup lama. Kisaran tahun 2010-an lalu. Menurut dia, itu merupakan kegiatan positif, karena sejauh ini juga tidak pernah mengganggu kegiatan belajar mengajar atau rutinitas di sekolah lainnya.

“Kalau gak salah dulu itu yang ngawali istrinya pak penjaga sekolah,” katanya sambil mengingat-ingat.

Jika berkumpul, ada sekitar 30 orang tua siswa yang setiap hari menganyam bambu. Terdiri dari wali murid kelas satu dan taman kanak-kanak di area sekolah tersebut. Nanti saat kenaikan tingkat biasanya terdapat anggota baru dan sebagian lagi hilang.

Itu karena anaknya tidak lagi minta ditunggui di sekolah. Kegiatan ini berlangsung mulai Senin sampai Sabtu atau saat masuk sekolah. “Ngrumpi itu juga penting karena tukar pengalaman atau informasi. Tapi kalau ada tambahan pendapatan kan lumayan,” tuturnya.

(rt/muh/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia