Rabu, 19 Dec 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Harapan Percatu Tulungagung di Hari Disabilitas Internasional

06 Desember 2018, 10: 39: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

PANTANG MENYERAH: Ketua Percatu Tulungagung Didik Prayitno Kulmanandi saat menunjukkan koleksi bukunya kemarin (5/12).

PANTANG MENYERAH: Ketua Percatu Tulungagung Didik Prayitno Kulmanandi saat menunjukkan koleksi bukunya kemarin (5/12). (AGUS DWIYONO/RATU)

Setelah peringatan Hari Disabilitas Internasional, Senin (3/12) lalu, tentu masih ada seabreg harapan. Tidak terkecuali Didik Prayitno Kulmanandi, yang ingin pelayanan di Kota Marmer kepada penyandang disabilitas atau difabel semakin baik.

Saat datang ke rumah Didik Prayitno Kulmanandi di Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, terlihat ratusan buku tertata rapi di rak. Tempat tersebut merupakan perpustakaan kecil yang dikelola pria 49 tahun itu.

Meski memiliki keterbatasan fisik, dia tak pernah berkecil hati. Buktinya, dia berani memberi pelajaran tambahan kepada anak-anak di sekitar rumahnya. Bimbingan belajar dimulai sekitar pukul 14.00 hingga selesai.

Dia tak pernah berkeluh kesah menjadi salah satu difabel. Sebab, masih ada sekitar 50 lebih orang yang memiliki nasib serupa di kabupaten ini.

“Kebetulan menjabat sebagai ketua penyandang cacat tubuh (percatu) di Kabupaten Tulungagung yang memiliki anggota sekitar 50 orang. Masih banyak penyandang disabilitas yang belum terdata,” ungkapnya kemarin (5/12).

Bapak satu anak ini baru saja memperingati Hari Disabilitas Internasional di Surabaya. Dihadiri beberapa perwakilan dari Tulungagung, termasuk dirinya. “Di kabupaten ini belum ada kegiatan serupa untuk memperingati Hari Disabilitas,” tandasnya.

Dengan peringatan hari tersebut, dirinya berharap ada peningkatan pelayanan terhadap difabel dan tidak ada diskriminasi.

Menurut dia, perhatian pelayanan pemerintahan di Tulungagung kepada difabel belum maksimal. “Di Tulungagung, hampir semua instansi memandang kami sebelah mata. Bahkan disamakan dengan orang normal,” ungkapnya.

Selain itu, dia juga ingin di lingkup Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Tulungagung memiliki pelayanan khusus untuk difabel. “Jangan dipersulit jika melayani. Kami sering mengalami dan dipandang sebelah mata,” ujarnya.

Meski demikian, memang ada perhatian pemerintah yang dirasakan sekarang ini. Semisal dalam menentukan suara di setiap pemilihan umum (pemilu) dan sering dilibatkan sosialisasi yang diadakan KPU.

Dia ingin pemilumendatang, untuk proses sosialisasi dari KPU sampaipengurusdi tingkatdesasehingga dapat memetakan secara maksimal di setiap desaatau kecamatan ada berapajumlah difabel. “Jangan dibeda-bedakan. Sebab, kitamempunyai hak memilih, dipilih, dan sebagai penyelenggara,” ungkapnya.

(rt/did/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia