Rabu, 19 Dec 2018
radartulungagung
icon featured
Ekonomi

Budi Daya Pedaging Kelinci di Plosokandang

06 Desember 2018, 15: 15: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

BERPROSPEK: Alim menunjukkan kandang budi daya kelinci yang digelutinya.

BERPROSPEK: Alim menunjukkan kandang budi daya kelinci yang digelutinya. (Henny Surya Akbar Purna Putra/ Radar Tulungagung)

Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru, selama ini dikenal sebagai sentra kerajinan keset. Namun baru-baru ini, di desa tersebut, tepatnya di Dusun Srigading, sejumlah warga mulai merintis budi daya pedaging kelinci. Warga menilai budi daya ini memiliki prospek yang menjanjikan.

Ide budi daya pedaging kelinci di Desa Plosokandang ini digagas oleh Edi Supriyono. Pria separo baya ini melihat peluang budi daya kelinci cukup bagus. Pasalnya, banyak permintaan pasar terhadap kelinci hidup, sementara masih sedikit pembudi daya yang ada di Tulungagung.

“Dari situ, saya mengusulkan kepada pihak pemerintah desa untuk mendukung program budi daya di desa kami,” kata Edi.

Menurut Edi, budi daya kelinci memiliki banyak kelebihan. Perawatannya mudah dan tak terlalu memakan banyak tempat. Diakuinya, banyak yang memandang sebelah mata budi daya kelinci. Sebab, sebagian orang beranggapan perawatannya itu sulit dan kelinci mudah mati. Namun, Edi menampik anggapan tersebut. “Kelinci itu hanya rawan kembung. Jadi dengan metode perawatan yang benar, bisa terpelihara dengan baik,” kata Edi bersemangat.

Selain itu, tidak terlalu memakan banyak tempat. Dibandingkan dengan budi daya kambing, lanjut Edi, budi daya kelinci hanya butuh ruang berukuran 2 x 2 meter per segi, sudah dapat menampung 20 ekor kelinci. Satu kelinci dewasa berusia sekitar dua bulan yang sudah layak jual, paling tidak dihargai Rp 100 ribuan di pasaran. “Lewat budi daya kelinci, selama tiga bulan sudah bisa menghasilkan,” kata Edi.

Tak hanya itu, budi daya kelinci dapat menghasilkan dari daging hingga kotoran kelinci. “Kelinci dapat diambil kulit, daging, air kencing, dan kotorannya. Hampir semua dari kelinci dapat menghasilkan rupiah,” ujar Edi.

 Namun sebelum mendapatkan berbagai keuntungan dari budi daya pedaging kelinci, memerlukan usaha yang ulet dan tekun. Seperti diungkapkan Alim dan Arifin, pembudi daya kelinci. Saat memulai budi daya kelinci, harus menyiapkan tempat atau kandang dan pakan kelinci. “Selama ini masalah pakan sering menjadi kendala karena harga pakan cukup mahal. Jika membuat sendiri, biaya bisa ditekan.

Alim mengaku budi daya kelinci yang ditekuninya sejak setahun terakhir cukup berkembang. Bahkan, dia sudah mengembangbiakkan berbagai jenis kelinci. Salah satunya jenis New Zealand yang perkembangan tubuhnya lebih cepat daripada jenis yang lain.

Mengenai kendala pakan, para pembudi daya kelinci sedikit terbantu dengan adanya dukungan dari pemerintah desa setempat. Melalui anggaran dana desa, para pembudi daya bisa merakit mesin pembuat pakan kelinci. “Dengan adanya mesin ini, kami dapat menekan biaya pengeluaran pakan. Artinya, keuntungan yang kami raih bisa maksimal,” kata Alim.

Sementara itu, Kepala Bagian Pemerintahan Desa Plosokandang Sigit Purnomo mengatakan, pihak desa mendukung usulan masyarakat melalui bidang pemerintahan, pembangunan, pemberdayaan, dan sosial. Pihaknya menyambut baik keinginan masyarakat yang ingin mengembangkan budi daya pedaging kelinci. “Setiap beberapa bulan sekali, kami mengadakan sosialisasi dengan mendatangkan narasumber yang berkompeten dalam budi daya kelinci,“ imbuh Sigit Purnomo.

Menurut Sigit, masyarakat juga antusias. Dia berharap masyarakat yang terjun dalam budi daya pedaging kelinci bisa serius dan tekun. Dengan begitu, mampu meraup keuntungan yang berdampak kepada kesejahteraan warga setempat.

(rt/rid/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia