Rabu, 16 Jan 2019
radartulungagung
icon featured
Ekonomi

Ada Faktor Pemicu Bangunan Pasar Senilai Rp 938 Juta Terancam Mubazir

08 Desember 2018, 16: 00: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

SEPI: Beberapa pedagang di pasar kawasan perdesaan Ngantru sedang beraktivitas dengan latar belakang lapak yang kosong, kemarin (7/12).

SEPI: Beberapa pedagang di pasar kawasan perdesaan Ngantru sedang beraktivitas dengan latar belakang lapak yang kosong, kemarin (7/12). (PANJI EKA PRASTYA/RATU)

TULUNGAGUNG – Hingga kini minat warga untuk berjualan di pasar kawasan perdesaan di Desa Srikaton, Kecamatan Ngantru, minim. Pasar yang berdiri di atas luas tanah 7.762 meter per segi tersebut tinggal diisi lima pedagang aktif.

Padahal, pasar yang menelan anggaran pembangunan Rp 938 juta itu memiliki 24 lapak dan 8 kios.

Salah satu pedagang yang ada di pasar, Tutut mengatakan, dua minggu belakangan ini terjadi penurunan jumlah pedagang yang menggelar barang jualan. Bahkan, pedagang yang aktif berjualan bisa dihitung jari.

“Setiap hari sekitar 5 sampai 10 orang saja yang jualan,” ungkapnya.

Menurut wanita yang berdagang buah ini, menurunnya jumlah pedagang di pasar ini bukan karena fasilitas pasar, melainkan kurang koordinasi antarpedagang untuk membedakan barang dagangan.

Jadi semua pedagang saling melengkapi satu sama lain. “Fasilitas sudah cukup baik, tetapi koordinasi belum berjalan sebagaimana mestinya,” jelasnya.

Disinggung masalah pendapatan, wanita asli Desa Srikaton ini mengaku, dua minggu ini pendapatan sangat menurun. Bahkan pernah tidak ada satu pun dagangannya yang laku.

Dia berharap semua elemen yang ada di pasar ini, baik para pedagang dan pengelola pasar terus berusaha, saling komunikasi, dan bersabar.

Selain itu, dia juga berharap dengan jembatan Ngujang 2 yang berada sekitar 500 meter dari pasar, bisa menjadi pemicu perputaran roda ekonomi. “Kami hanya bisa bersabar,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, pelaksana operasional pasar tersebut, Harsono Reno Utomo menjelaskan, saat awal pembukaan pasar pada April silam, semua lapak dan kios sudah terjual.

Namun dalam satu hingga dua bulan terakhir ini, rata rata pedagang yang berjualan setiap hari sekitar lima sampai 10 pedagang. “Tidak banyak yang berjualan di situ,” katanya.

Dari pihak pengelola pun sebenarnya terus berusaha untuk membangkitkan aktivitas jual beli di pasar ini. Pria yang biasa di panggil Son ini mengatakan, area tersebut direncanakan bakal dijadikan pasar kuliner dan ada area bermain anak.

“Kami berrencana untuk tetap menghidupkan aktivitas pasar, bahkan hingga petang,” tandasnya.

Sekadar diketahui, biaya sewa pasar ini bisa dikatakan sangat murah. Yakni Rp 2 ribu per hari untuk lapak dan Rp 3 juta per tahun untuk kios. “Kami berharap semua pedagang untuk sabar dan pantang menyerah karena pasar ini baru berdiri.

Jadi antara pengelola dan pedagang harus terus mengembangkan pasar ini karena pasar ini memiliki potensi perekonomian yang besar,” tandasnya.

(rt/rak/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia