Minggu, 08 Dec 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Hariyono, Kepala SMK yang Menjadi Sesepuh Wayang Orang

Miliki Totalitas dan Setulus Hati Kelola Grup

10 Desember 2018, 15: 56: 35 WIB | editor : Didin Cahya FS

TERUS BERKIPRAH: Hariyono saat berperan sebagai Prabu Kresna dan menuju Astina dengan dikusiri Raden Setyaki.

TERUS BERKIPRAH: Hariyono saat berperan sebagai Prabu Kresna dan menuju Astina dengan dikusiri Raden Setyaki. (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

 Melestarikan seni budaya tidak hanya dilakukan para pelaku seni. Bahkan, ini terkadang juga dilakukan lintas generasi. Seperti Hariyono yang notabene kepala salah satu SMK swasta yang mendedikasikan diri untuk menghidupi grup wayang orang satu-satunya di Kota Marmer.

DHARAKA R. PERDANA

Dengan sikap tegas, tapi tutur kata yang lembut, Prabu Kresna memberi wejangan kepada para Pandhawa. Dia memberi arahan mengenai hak para putra Prabu Pandhudewanata atas Kerajaan Astina maupun Amarta yang saat itu diduduki Sata Kurawa yang dipimpin Prabu Duryudana.

Namun, upaya tersebut gagal terealisasi karena Prabu Duryudana enggan memberikan hak para Pandhawa. Alhasil, membuat Prabu Kresna murka dan bertiwikrama menjadi seorang raksasa yang mengerikan. Namun, kemarahan raja Dwarawati itu bisa diredam Bathara Narada yang mengingatkannya jika apa yang tertulis di Serat Jitabsara harus terjadi di dunia dalam bentuk Perang Baratayudha.

Ya, dalam lakon wayang orang Kresna Duta itu, Hariyono bertindak sebagai Prabu Kresna. Namun siapa sangka, latar belakangnya ternyata tidak berhubungan dengan dunia kesenian itu. Usut punya usut, dia justru berlatar belakang guru matematika. Namun semua bukan menjadi halangan untuk tidak mencintai dunia kesenian. “Saya memang menyukai kesenian sejak masih muda,” katanya.

Menurut dia, menghidupi sebuah grup kesenian memang bukan perkara gampang. Itu menuntut totalitas dan ketulusan hati untuk terjun di dalamnya. Beruntung, dia mendapat dukungan dari sekolah tempatnya mengabdi yang terus concern dalam hal menjaga khazanah seni budaya. “Saya memang memiliki sebuah grup wayang orang Hari Budoyo. Personelnya mayoritas anak didik kami dan sekaligus mengajarkan kepada mereka betapa luhurnya nilai yang terkandung dalam setiap pertunjukan wayang orang,” terangnya.

Pria 60 tahun ini mengakui, membangun karakter setiap tokoh pewayangan memang bukan perkara gampang. Setiap digelar latihan, seluruh personel harus mendalami setiap karakter yang akan diperankan. Meski akhirnya saat di atas panggung, bisa saja ada yang kehilangan karakter yang sudah dipelajari. “Semua memerlukan proses dan biaya hingga pertunjukan rampung,” ujarnya.

Pria berkacamata ini pun sempat melempar balik pertanyaan ke Jawa Pos Radar Tulungagung mengenai pementasan di Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru. Yakni apakah sudah memenuhi harapan atau belum? Koran ini pun menjawab sudah lumayan. Meskipun, ada beberapa karakter yang belum bisa dipegang sepenuhnya oleh sang aktor. Hariyono pun hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.

Ke depan, dia berharap grup wayang orang yang diklaimnya hanya satu-satunya di Tulungagung ini mendapat perhatian dari pemerintah. Sebab, untuk menggelar pementasan butuh dana yang tidak sedikit. Kendati demikian, tidak serta-merta menyurutkan semangatnya untuk terus bergelut di dalamnya. “Saya akan tetap berkiprah di sini. Alhamdulillah, ini tidak sampai mengganggu aktivitas di sekolah,” tandasnya.

(rt/rak/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia