Rabu, 16 Oct 2019
radartulungagung
icon featured
Blitar

Kini Peredaran Mirip Narkoba, Rokok Senilai Rp 262 Juta Dibakar Ludes

13 Desember 2018, 15: 05: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

MERUGIKAN NEGARA: Ribuan batang rokok ilegal dibakar di Rupbasan Kelas II Blitar.

MERUGIKAN NEGARA: Ribuan batang rokok ilegal dibakar di Rupbasan Kelas II Blitar. (MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH/RADAR BLITAR)

 BLITAR KOTA - Ribuan batang rokok ilegal berbagai merek dimusnahkan. Rokok-rokok ilegal tersebut merupakan hasil penyitaan yang dilakukan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Blitar sepanjang 2018.

 Pemusnahan tersebut dilakukan di Rumah Peyimpanan Benda Sitaan (Rupbasan) Kelas II Blitar. Ribuan rokok ilegal dikumpulkan jadi satu, lalu dibakar di tempat khusus pemusnahan. Rokok yang tidak bercukai itu dimusnahkan dengan cara dibakar. "Rokok yang kami sita ini rata-rata tidak bercukai. Jika pun bercukai, tapi palsu," kata Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Blitar M. Arif Setijo Noegroho.

Rokok yang dimusnahkan itu jumlahnya mencapai 368.262 batang. Jika dirupiahkan, nilainya mencapai Rp 262 juta. Menurut Arif, nilai tersebut seperempat dari jumlah total batang rokok yang disita selama kurun 2018. Selama 2018 ini, bea dan cukai Blitar telah menyita sekitar 1,3 juta batang.

 Jumlah tersebut menurun dibanding tahun lalu. Meski begitu, jika dilihat dari intensitas penindakan, tahun ini meningkat daripada tahun lalu atau 2017. Sebab, pengedar rokok ilegal kini jumlahnya semakin bertambah banyak.

 Rokok yang disita, jelas dia, bukan hanya berasal dari Blitar saja, melainkan juga dari Tulungagung dan Trenggalek. "Memang untuk wilayah kerja kami sampai Tulungagung dan Trenggalek," ujarnya. Belum semua rokok ilegal hasil sitaan itu dimusnahkan. "Sebagian masih kami simpan di gudang karena belum diajukan untuk dimusnahkan," imbuhnya.

Kini, menurut Arif, peredaran rokok ilegal berubah. Peredarannya mirip seperti peredaran narkoba, yakni secara tertutupi. Sebelumnya, peredaran dilakukan secara terbuka yakni dijual di rumah-rumah atau toko.

 Untuk bertransaksi, pengedar kini harus berjanjian terlebih dahulu di suatu tempat. Dulu, pengedar biasanya membawa keranjang dengan mengendarai sepeda motor atau mobil. "Namun kini hanya memakai ransel atau menggunakan mobil. Jadi kami kesulitan melacak," ungkap pria ramah ini.

(rt/abd/kan/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia