Sabtu, 23 Mar 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Indah Dwi Wulandari, Manfaatkan Waktu Luang untuk Merajut

Karya Pertama Sepatu Bayi, Ingin Buka Kelas

14 Desember 2018, 16: 14: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

KREATIF: Indah Dwi Wulandari ketika menyelesaikan rajutan untuk memenuhi pesanan.

KREATIF: Indah Dwi Wulandari ketika menyelesaikan rajutan untuk memenuhi pesanan. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RADAR TULUNGAGUNG)

 Memanfaatkan hobi menjadi peluang bisnis merupakan impian setiap orang. Tak terkecuali Indah Dwi Wulandari. Bermula dari hobinya membuat kerajinan tangan, kini Indah sukses membuka bisnis rajut.

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI

Aneka benang wol dan benang poli memenuhi meja ruang tamu Indah Dwi Wulandari. Tak jauh dari sana, tampak berjejer aneka tas, dompet, dan boneka hasil rajutan Indah. “Siang, monggo masuk dulu. Maaf ya lagi menyelesaikan rajutan boneka untuk teman,” sambutnya ramah.

Di kediamannya yang terletak di Desa Boro, Kecamatan Kedungwaru, ini Indah mengisi waktu luangnya dengan merajut.

Dia menceritakan awal mula menekuni seni rajut. Saat itu awal tahun 2016 mulai belajar membuat rajutan sederhana. Apalagi sejak remaja tertarik dengan handcraft dan berbagai kerajinan tangan sehingga tidak asing lagi. Lantas memanfaatkan media sosial untuk mencari tutorial rajut. “Dulu saya sempat belajar membuat boneka-boneka flannel. Tapi nggak lama, sekarang memilih serius dirajut. Bisa dibilang otodidak,” jelasnya.

Dia menjelaskan, karya rajut pertama yang dibuatnya berupa sepatu bayi. Saat itu ada salah satu teman usai menjalani persalinan.

Dia pun lantas membuat sepasang sepatu bayi sebagai hadiah. “Karena masih tahap belajar juga, saya membuat sepasang sepatu bayi. Tapi ukurannya terlalu besar. Bahkan hingga si bayi berusia 10 bulan baru bisa mengenakan sepatu ini. Itu yang tak terlupakan,” ujarnya seraya tertawa.

Belajar dari berbagai pengalaman, dia kian giat berkreasi dengan beragam benang wol. Bahkan kemanapun dirinya pergi, satu tas berisi berbagai alat rajut dan aneka benang selalu setia dia bawa. “Saya mudah bosan. Jadi ke mana-mana selalu membawa alat rajut. Lagi nunggu antrean di bank, saya isi dengan merajut saja,” tandas wanita 26 tahun ini.

Dia mengaku, selama menjalankan bisnis rajutan, salah satu kesulitan yang kerap dialami yakni bahan baku. Benang yang tersedia di Tulungagung kurang variatif. Baik dari warna maupun pilihan bahan. Untuk menyiasati, wanita berhijab ini pun lantas kerap berbelanja online atau membeli barang dari luar kota. “Suatu misal untuk membuat sepatu atau baju rajut bayi. Benang yang digunakan benang yang halus. Beda lagi untuk rajut tas, benang yang digunakan yang sedikit kaku agar hasil kuat,” ujarnya.

Mengenai inspirasi, alumnus Universitas Islam Kadiri (UNISKA) ini memilih media sosial (medsos) seperti Instagram dan Pinterest untuk referensi. Meski sudah dua tahun menekuni seni rajut, masih kerap mengalami kebingungan. Terlebih ketika mengerjakan detail hiasan. Pasalnya, ukuran yang dibuat harus pas dan sesuai. Agar karya yang dihasilkan terlihat proporsional. “Misal saat membuat boneka begini. Saya harus menghitung dan memperkirakan bagian tangan besarnya seberapa dan kaki seberapa. Belum lagi detail-detail pada baju agar seimbang” ungkapnya.

Untuk membuat satu dompet sederhana, perlu waktu kurang lebih dua jam. Lama pengerjaan tergantung pada besar kecil ukuran yang dibuat serta tingkat kerumitan. Makin detail dan rumit, waktu yang dibutuhkan pun akan lebih lama. Harga rajutan Rp 15 ribu hingga Rp 385 ribu, tergantung tingkat kerumitan dan bahan yang dipilih.

Dalam sebulan mampu menghasilkan hingga Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. “Karena saya juga ada kerjaan dan yang meng-handle rajut hanya saya, jadi saya hanya membuat sesuai dengan pesanan (made by order) saja,” terang bungsu dari dua bersaudara ini.

Dia bercita-cita dapat membuka sebuah galeri sendiri dan kelas pelatihan khusus merajut. Pasalnya, dengan kegiatan sederhana seperti merajut, dapat memberdayakan orang-orang di sekitar. Khususnya bagi para ibu rumah tangga. “Terkadang kan ibu rumah tangga merasa bosan kalau hanya di rumah. Dengan memiliki kesibukan merajut, dapat meningkatkan mutu ekonomi mereka juga,” pungkasnya.

(rt/jpr/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia