Sabtu, 23 Mar 2019
radartulungagung
icon-featured
Features

Lingga Donesia Affandi, Pesilat Cilik Raih Dua Piala Kompetisi Silat

Sempat Kena Pukulan di Teka, Tak Ditarget Tim

16 Desember 2018, 16: 05: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

HEBAT: Lingga diapit Riko dan Ali, dua pelatihnya, sambil menunjukkan piala yang diperolehnya.

HEBAT: Lingga diapit Riko dan Ali, dua pelatihnya, sambil menunjukkan piala yang diperolehnya. (DHARAKA R. PERDANA/RADAR TULUNGAGUNG)

Ajakan seseorang bersifat positif ada kalanya membawa prestasi. Itu pun dialami Lingga Donesia Affandi. Dia mendapat dua piala pada Kompetisi Pencak Silat Piala Kapolres yang berakhir. 

DHARAKA R. PERDANA

Perawakannya memang biasa saja. Namun di usia yang baru menginjak 11 tahun, Lingga Donesia Affandi bisa menorehkan prestasi membanggakan. Jika umumnya rekan sejawatnya hanya mendapat satu piala, dia malah menyabet dua. Yakni untuk kategori dan seni.

Bocah asal Desa Ketanon, Kecamatan Kedungawaru, ini mengakui jika dirinya sebenarnya tanpa sengaja terjun ke dunia silat. Usut punya usut, dua tahun lalu dia mengantar temannya berlatih. Ternyata dia tertarik. Begitu ada ajakan, langsung diiyakan begitu saja. “Dulu memang diajak dan terus berlatih hingga sekarang,” katanya saat ditemui di GOR Lembu Peteng.

Menurut dia, sebelum kompetisi berlangsung, tidak diberi target muluk-muluk dari tim pelatih. Hanya diharuskan tampil sebaik mungkin untuk mencari pengalaman. Bahkan turun di nomor tanding maupun seni. “Bagi saya, keduanya tidak ada bedanya. Semua memiliki tingkat kesulitan sendiri-sendiri,” tambahnya.

Namun saat ditanya rencana ke depan, siswa kelas 6 SDN 1 Kedungwaru ini hanya senyam-senyum sendiri. Tampaknya dia bingung untuk mengemukakan jawaban.

Riko Maskorib, pelatih Lingga di kelas tanding mengaku, saat kompetisi berlangsung, anak asuhnya sempat mendapat pukulan yang mengenai leher bagian bawah atau tekak. Namun itu tidak membuat anak asuhnya itu menyerah. “Saya bersyukur atas prestasi yang didapatnya. Namun saya berharap teknik tandingnya harus terus diasah karena saya melihat masih ada kekurangan,” tuturnya Sabtu (15/12.

Hal senada diungkapkan Ali Sodiqin, pelatih Lingga di kelas seni. Menurut dia, kelas seni memang cukup berbeda dengan kelas tanding. Karena di bagian ini, anak asuhnya tampil berdasarkan hapalan. Jadi setiap gerakan yang ditampilkan sudah disusun sedemikian rupa agar terlihat indah. Tak mustahil, konsentrasi penuh harus dilakukan agar tidak ada kesalahan dan wajar saja dianggap lebih sulit. “Kalau kelas tanding, asalkan bisa memukul, menendang, dan tidak terbanting. Tapi kalau seni harus menunjukkan sebuah teknik yang skematis,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Pengkab IPSI Tulungagung Suharto berharap, para peserta tidak cepat berpuas diri. Karena masih banyak hal yang harus dilakukan untuk meraih prestasi setinggi-tingginya. “Jangan berpuas diri dulu. Yakinlah untuk terus berprestasi,” katanya saat menutup kompetisi yang berlangsung sejak Senin (10/12) lalu.

(rt/rak/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia