Selasa, 19 Nov 2019
radartulungagung
icon-featured
Trenggalek

Petani Buah Miliki Trik untuk Antisipasi Hama Ketika Musim Hujan

17 Desember 2018, 00: 30: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

MERUGI: Tanaman melon milik Sukari, warga Desa Pucanganak, tidak ikut asuransi pertanian.

MERUGI: Tanaman melon milik Sukari, warga Desa Pucanganak, tidak ikut asuransi pertanian. (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

 TRENGGALEK – Anomali cuaca pada pergantian musim seperti sekarang ini berisiko kurang baik dalam produksi pertanian. Akibatnya, gagal panen mengancam petani. Seperti dialami Sukari warga Kecamatan Tugu ini. "Terendam hujan dan terlambat penanganan," katanya tampak menyesal.

Menurut dia, awal musim penghujan seperti sekarang, biaya produksi petani cenderung tinggi. Sebab, air hujan kadang bisa memicu timbulnya sejumlah hama semisal jamur, kutun kebul, dan hama lainnya. Tak pelak, penyemprotan pascahujan menjadi kewajiban yang harus dilakukan. "Sebenarnya ada banyak obat yang bisa didapatkan di toko pertanian. Tapi kalau seperti ini cuacanya, pemeliharaan tanaman jelas menjadi mahal," katanya.

Sementara ini, dia boleh sedikit lega. Masih ada beberapa buah yang sudah masak sehingga bisa dijual. Namun, jelas akibat penanganan kurang maksimal itu, membuat gagal panen raya dan mendapatkan keuntungan.

Di lokasi yang sama, Totok Siswanto, seorang pemerhati pertanian mengatakan, ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh petani untuk mengantisipasi munculnya hama pascahujan. Selain memberikan pestisida, wajib hukumya ada unsur perekat. Perekat ini biasanya juga sudah dimanfaatkan oleh petani dalam penyemprotan.

Namun, sambung dia, petani kadang begitu paham komponen dalam obat tersebut. Biasanya mereka cenderung kurang tepat dalam memlih obat. Akibatnya, biaya pemeliharaan yang telah dikeluarkan tersebut tidak bisa maksimal.

Menurut dia, ada banyak cara sederhana untuk mengantisipasi hama saat musim hujan. Biayanya pun juga tidak begitu mahal dan baginya cukup efektif. Yakni menggunakan minyak goreng (migor). "Jadi, beli perekat (obat, Red). Terus dicampur migor, lalu disemprotkan pascahujan," katanya.

(rt/muh/did/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia