Senin, 20 May 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Gardin Muhammad Andika Saputra Wakili Indonesia di IISEF 2019 di AS

Singkirkan Pesaing, Latihan Larut Malam

25 Desember 2018, 10: 53: 44 WIB | editor : Didin Cahya FS

TERUS BERSIAP: Gardin saat mengikuti lomba karya ilmiah yang diselenggarakan LIPI beberapa waktu lalu.

TERUS BERSIAP: Gardin saat mengikuti lomba karya ilmiah yang diselenggarakan LIPI beberapa waktu lalu. (DOK PRIBADI FOR RADAR TULUNGAGUNG)

 Usaha dan kerja keras memang tidak akan mengkhianati hasil. Ini yang dialami Gardin Muhammad Andika Saputra. Tahun depan, siswa SMAN 1 Boyolangu ini mewakili Indonesia pada Intel International Science and Engineering Fair (IISEF) 2019 di Amerika Serikat (AS).

DHARAKA R. PERDANA

Jangan anggap anak yang berasal dari wilayah pinggiran tidak mampu bersaing dengan mereka yang berasal dari wilayah perkotaan. Bahkan, biasanya mereka memiliki etos kerja yang lebih tinggi dan mau bekerja keras mencapai kesuksesan.

Hal tersebut cocok disematkan pada Gardin Muhammad Andika Saputra. Meskipun domisilinya di Desa/Kecamatan Besuki yang berjarak sekitar 30 kilometer (km) dari pusat kota Tulungagung, dia bisa membuktikan diri jika pantas diperhitungkan. Mengingat tahun depan dia ditunjuk untuk mewakili Indonesia pada IISEF 2019 di AS.

Dia mengaku jika awalnya memang hanya ikut lomba karya ilmiah remaja LIPI untuk bidang teknik. Ternyata seiring berjalannya waktu, tiga terbaik perlombaan ini harus mengikuti seleksi ulang untuk mewakili Indonesia. “Saya awalnya memang hanya mengikuti lomba yang digelar LIPI,” katanya.

Meskipun hanya mendapat juara dua, ternyata itu membawa keberuntungan baginya. Saat ikut seleksi ulang, dia bisa menyisihkan para pesaingnya. Dia pun terpilih untuk terbang ke Negeri Paman Sam tahun depan bersama dengan peserta terpilih dari bidang hayati, kebumian, dan sosial kemanusiaan.

Gardin, sapaan akrabnya mengakui, selama kompetisi hingga seleksi berlangsung, dia mendapat banyak hal. Seperti pengetahuan baru dari orang-orang yang benar-benar expert di sains, dapat teman dari seluruh Indonesia, bisa berkontribusi untuk Indonesia, bisa menyalurkan minat, serta bisa jadi delegasi Indonesia untuk lomba internasional. “Banyak hal yang saya dapat,” ujarnya sambil tersenyum.

Hasil yang didapatnya tersebut bukan tanpa pengorbanan. Dia terpaksa ketinggalan pelajaran di sekolah, harus menyiapkan berbagai peralatan pendukung buat penelitian, harus bolak-balik ke Bandung, Jawa Barat, untuk pengambilan data, nglembur bikin poster dan video animasi, hingga latihan presentasi pakai bahasa Inggris dengan mentor sampai larut malam. “Saya pun terus mengasah kemampuan berbahasa Inggris karena nantinya saat presentasi menggunakan bahasa dari Negeri Ratu Elizabeth itu,” tuturnya.

Untuk target, siswa berkacamata ini hanya ingin tampil semaksimal mungkin. Dia akan berusaha menampilkan yang terbaik. “Agar bisa membawa nama harum Indonesia di dunia internasional,” tandasnya. 

(rt/rak/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia