Senin, 09 Dec 2019
radartulungagung
icon-featured
Features

Kristanto, Manfaatkan Bekas Styrofoam Buah Jadi Pesawat Aeromodeling

Cari Bahan di Pasar Ngemplak

26 Desember 2018, 21: 05: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

KREATIF: Kristanto menunjukkan beberapa bahan pembuatan pesawat aeromodeling.

KREATIF: Kristanto menunjukkan beberapa bahan pembuatan pesawat aeromodeling. (AGUS DWIYONO/RADAR TULUNGAGUNG)

 Kristanto, 32, warga Desa/Kecamatan Kedungwaru, berhasil membuat puluhan pesawat aeromodeling dari bekas styrofoam buah dan hidroponik.

AGUS DWIYONO

Suasana lengang tampak saat Koran ini melintas di Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo, gang 2 masuk Desa/Kecamatan Kedungwaru, sekitar pukul 13.00 kemarin (25/12). Sebab, tanda-tanda akan turun hujan sudah terlihat.

Kondisi tersebut tak jarang dimanfaatkan sebagian warga untuk melakukan aktivitas di dalam rumah. Termasuk oleh Kristanto.

Dia memanfaatkan waktu menjelang sore hari untuk istirahat sambil memperbaiki pesawat aeromodeling miliknya. Miniatur pesawat itu biasa diterbangkan setiap Minggu di lapangan terdekat dengan teman-temannya.

Saat masuk rumah Kristanto, tampak lantai berwarna kuning muda, beberapa peralatan pembuatan pesawat aeromodeling, serta bahan styrofoam dan polyfoam. “Bahan-bahan ini sisa wadah buah para pedagang di Pasar Ngemplak,” ungkap pria anak satu itu.

Selain styrofoam dan polyfoam, tampak beberapa pesawat aeromodeling sudah dibentuk. Pesawat mini tersebut dapat diterbangkan dengan menggunakan remote kontrol dengan ketinggian dan kejauhan sesuai keinginan. “Empat pesawat aeromodeling sudah jadi, bisa diterbangkan. Saya paling suka menerbangkan jenis trainer yang mempunyai bentuk sayapnya di atas. Itu karena saat diterbangkan lebih seimbang,” ungkapnya.

Sejak tiga tahun lalu, pria ramah itu sudah menciptakan puluhan pesawat aeromodeling berbagai jenis, mulai termudah hingga tersulit. “Saya membuat sekitar 15, ada yang dibeli orang lain,” ungkapnya.

Membuat satu pesawat aeromodeling butuh waktu yang berbeda atau tergantung jenis pesawat dan bahan yang diperlukan. Jika menggunakan bahan dari styrofoam bekas wadah buah, butuh waktu lima hari. “Dari wadah buah itu yang lama membentuknya, yakni dengan menggunakan amplas untuk membentuk bodi yang diinginkan. Kalau polyfoam barang sudah halus tinggal merakit, tapi carinya harus di Surabaya,” ujarnya.

Selain itu, untuk membuat pesawat aeromodeling butuh ketelatenan. Setelah kerangka pesawat mini jadi, lantas dipasang berbagai alat yang bisa digunakan untuk menerbangkan. Seperti dinamo, servo, baterai, dan electronik speed controller (ESC). “Bahan semua beli, mulai dari 25 ribu hingga 100 ribu. Termahal remote kontrolnya sekitar 700 ribu,” ungkapnya.

Dia mengaku, awal mula membuat hal tersebut lantaran memanfaatkan sisa styrofoam miliknya setelah membuat tanaman hidroponik di depan rumahnya, sekitar 3 tahun lalu. Melihat banyaknya sisa bahan tidak terpakai, lantas muncul ide buat pesawat dari bahan itu. “Awalnya membuat biasa. Setelah melihat di internet, ternyata ada tutorial membuat pesawat kecil bisa terbang,” jelas ujar pria berusia 32 tahun itu.

Saat kali pertama membuat, belumbisamenerbangkanpesawat.Namun lambatlaunmulai bisa menerbangkandanmemainkan sendiri.

(rt/did/did/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia