Rabu, 11 Dec 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Pasutri asal Rejotangan yang Tekuni Pembuatan Kostum Robot

29 Desember 2018, 09: 54: 48 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

TERUS BERKARYA: Rudi Handoko saat menyelesaikan proses pembuatan kostum robot, kemarin (28/12).

TERUS BERKARYA: Rudi Handoko saat menyelesaikan proses pembuatan kostum robot, kemarin (28/12). (AGUS DWIYONO/RATU)

Sepak terjang pasangan suami istri (pasutri) Rudi Handoko dan Purwaningsih membuat kerajinan kostum robot / cosplay ternyata bisa sebagai ladang mendulang uang.

Saat ditemui kemarin (28/12) di Desa Aryojeding, Kecamatan Rejotangan, Rudi Handoko dan Purwaningsih, saling membantu dalam membuat bagian dari kostum Iron Man dan Transfomer.

Pasutri tersebut tampak serius melakukan pembalutan bagian robot dengan bahan koran, lantas dicat.

Selain itu, puluhan pernik-pernik dari bagian tubuh kostum super hero tersebut, berserakan di lantai dengan berbagai warna, mulai dari bagian dada, kepala, dan kaki.

Sebagian kostum sudah dicat, itu memang tampak berbeda dengan yang belum dilakukan pewarnaan mulai dari warna hingga tekstur halus.

Rudi Handoko mengaku semula iseng membuat kerajinan kostum robot. “Dulu hanya iseng saat kerja di warnet karena banyak waktu luang sehingga coba browsing melihat tutorial pembuatan kostum robot,” jelas pria 29 tahun itu.

Dia mengaku, mengenal kostum robot sejak tahun 2014 silam, dan mulai belajar membuat. Di tahun 2017 banyak pemesan setelah diunggah di salah satu akun media sosialnya. Bahkan, pemesan kebanyakan dari luar kota.

Bapak satu anak satu ini mengaku hingga kini pemesan terus ada, meski tidak setiap bulan.

Dia tetap terus membuat kerajinan kostum robot di sela-sela waktu luang dan dibantu istrinya. “Saya dengan istri yang membuat, sesekali dibantu saudara,” ujarnya.

Membuat kerajinan kostum Iron Man dan Transformer, butuh ketelatenan agar bentuknya mirip dengan aslinya. “Harga jual berubah setiap tahun. Dulu hanya 600 ribu, sekarang 5 sampai 7 juta,” ungkapnya.

Untuk menyelesaikan satu karya, mulai dari proses awal pembuatan sketsa hingga finishing perlu waktu satu bulan. Untuk membuat satu bagian tubuh perlukan satu hari, bahkan hingga dua hari untuk di bagian tersulit, seperti jari-jari dan kaki. “Tersulit di bagian kaki dan jari-jari karena harus detail. Kalau bagian kepala dan tubuh, hanya butuh satu hari,” ujarnya.

Dia mengatakan, karyanya terbuat dari spons yang tidak mudah robek dan mudah dibentuk. Setelah itu, dalam tahapan finishing dilakukan dua kali pengecatan. Yakni dasar dan sesuai dengan warna pilihan. “Sekarang sudah bisa membeli kompresor buat pengecatan. Dulu kami memakai wadah obat nyamuk untuk kaleng pompa cat,” jelasnya.

Sedangkan, Purwaningsih mengaku hingga kini sudah membuat sekitar 50 model Iron Man dan Transformer yang laku terjual di seluruh Jawa, luar Jawa, maupun luar negeri. “Kirim ke Malaysia dan Bandung pernah dikomplain. Tapi tidak apa-apa membuat kami lebih percaya diri,” ungkapnya.

Dia berencana tahun depan memakaikarya sendiri untuk diperkenalkan ke publik akansegeraterealisasi.“Kamijuga usaha sablon,” jelasnya.

(rt/did/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia