Selasa, 23 Jul 2019
radartulungagung
icon-featured
Ekonomi

Meski Bersubsidi, Berusaha Tetap Berkualitas

03 Januari 2019, 11: 06: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

TETAP KUKUH: Perumahan bersubsidi di Desa Sambirobyong, Kecamatan Sumbergempol.

TETAP KUKUH: Perumahan bersubsidi di Desa Sambirobyong, Kecamatan Sumbergempol. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RATU)

 TULUNAGGUNG- Rumah bersubsidi harganya lebih miring ketimbang rumah nonsubsidi. Tapi bukan berarti kualitas bangunan rumah tersebut juga ikut miring. Para pengembang atau developer berusaha membuat bangunan rumah bersubsidi tetap berkualitas.

Agar bangunan rumah bersubsidi berkualitas, maka kunci utamanya adalah pemilihan material bagunan. Hal itu diungkapkan M. Cahyo Nugroho, salah satu tim developer di Tulungagung. Menurut dia, dengan material bangunan berkualitas, otomatis menjaga kepercayaan masyarakat untuk tetap membeli rumah bersubsidi. “Perlu diketahui, developer di Tulungagung lebih mementingkan kualitas dibanding mengejar kuantitas,” katanya.

Meski pendapatan penggarapan rumah bersubsidi itu minim, lanjut Cahyo, bukan berarti melupakan keselamatan pemilik rumah nantinya. Pihak pengembang selalu berusaha memenuhi standar pemerintah. Karena pemerintah telah menetapkan secara detail mulai dari segi tanah, konstruksi, material bangunan, campuran semen, dan ukuran besi dalam membangun perumahan bersubsidi. “Seperti tanah dengan ukuran 6 x 10 meter; campuran semen, pasir, kerikil memiliki perbandingan 1:2:3; serta ukuran besi menggunakan 8 dan 6 sentimeter,” jelasnya.

Meski begitu, kenyataan di lapangan ada beberapa kecurangan terutama pada perbandingan campuran semen dan pasir yang mencapai 1:9. Tentu perbandingan itu membuat semen sebagai daya perekat tak mampu menahan pasir. Sedangkan ukuran besi tidak diperbolehkan di bawah 8 untuk tulang dan di bawah 6 untuk beugel. “Pada titik ini, ukuran besi-besi itu sebagai kunci ketahanan rumah,” katanya.

Seperti saat studi banding ke daerah perumahan yang roboh di Jakarta, itu memang disebabkan konstruksi dan material bangunan tidak memenuhi standar. “Tentu mereka hanya mengejar kuantitas,” tandasnya.

(rt/did/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia