Jumat, 18 Jan 2019
radartulungagung
icon-featured
Trenggalek

Pengelolaan Hutan Bakau Perlu Diperhatikan

06 Januari 2019, 15: 00: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

BISA LEBIH BAIK: Salah satu jembatan kayu di wilayah hutan bakau Pantai Cengkrong yang beberapa titiknya terjadi kerusakan.

BISA LEBIH BAIK: Salah satu jembatan kayu di wilayah hutan bakau Pantai Cengkrong yang beberapa titiknya terjadi kerusakan. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

 TRENGGALEK - Pemkab Trenggalek harus lebih serius lagi dalam mengurus dan mengembangkan lokasi wisata. Jika tidak serius, suatu kawasan wisata akan tidak terurus hingga banyak fasilitas penunjang yang rusak. Termasuk yang terlihat di Taman Mangrove, Pantai Cengkrong.

Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Trenggalek di lokasi, sebenarnya kawasan tersebut terlihat indah dengan ditumbuhinya pohon bakau. Namun di beberapa titik, banyak jembatan yang sudah rusak serta banyak bagian yang patah dan belum diperbaiki. Tak ayal, itu membahayakan pengunjung yang datang. ”Saya baru pertama ke sini. Tamannya baik, tapi sayang jembatan di hutan bakau yang rusak belum diperbaiki sehingga menghilangkan keindahan taman,” ungkap salah satu wisatawan asal Kota Madiun, Iis Erawati.

Dia melanjutkan, bukan hanya itu, ada beberapa fasilitas penunjang seperti toilet yang tidak bisa digunakan. Pengunjung harus berjalan ke lokasi toilet yang lain, tentunya dengan jarak yang sedikit jauh hanya untuk buang air kecil. ”Toiletnya ada yang bersih, tapi tidak semuanya. Makanya pengelola harus lebih serius lagi,” katanya.

Senada diungkapkan wisawatan dari Kota Madiun lainnya, Galih Nola. Dia menambahkan, akan lebih baik jika kekurangan tersebut disempurnakan oleh pengelola. Sebab, lokasi pemandangan taman bakau terlihat bagus dan cocok untuk ber-selfie. Apalagi wilayah itu dekat dengan beberapa wana wisata pantai sehingga jika pengunjung merasa bosan, bisa segera pergi untuk menuju lokasi wisata lainnya. ”Lokasinya baik, tidak jauh berbeda dengan apa yang dipromosikan lewat media sosial. Makanya akan lebih baik jika pengelola tanggap untuk memperbaiki fasilitas yang rusak,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) Pengelola Taman Mangrove Pantai Cengkrong Imam Saifudin menjelaskan, kerusakan beberapa fasilitas tersebut bukan karena pengelola malas, tapi keterbatasan anggaran. Sebab, ada skema kerja sama yang baru dan membuat kerja sama objek (KSO) Taman Manrove tidak ada lagi. Pengelola pun menarik biaya seikhlasnya kepada pengunjung untuk uang kas yang digunakan membangun fasilitas wisata. ”Tiket masuk tidak ada paksaan, hanya keiklasan. Sebab, kami harus melakukan perbaikan. Sedangkan untuk KSO dengan pemilik pantai belum dilakukan, menunggu skema yang baru. Namun untuk pajak, kami tetap membayarnya,” jelasnya.

(rt/zak/did/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia