Kamis, 21 Mar 2019
radartulungagung
icon featured
Features

Omset Kencan Rp 1,5 juta Sirna usai Disegel

12 Januari 2019, 12: 27: 42 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

GELISAH : Brenda ketika menunggu tamu di salah satu tempat karaoke sebelum ditutup pemerintah.

GELISAH : Brenda ketika menunggu tamu di salah satu tempat karaoke sebelum ditutup pemerintah. (Brenda for Radar Blitar)

BLITAR KOTA - Tak dapat dimungkiri, tempat karaoke juga menjadi lokasi untuk mencari rezeki. Cukup banyak yang menggantungkan hidupnya dari tempat itu. Apalagi kalau bukan untuk mendapat rupiah guna biaya hidup.

Tak terkecuali para LC atau yang biasa disebut pemadu lagu. Mereka harus memutar otak pascapenutupan tempat karaoke yang dilakukan pemerintah beberapa hari lalu.

“Halo, selamat malam. Apa kabar? Kok lama nggak ke sini?” kalimat itulah yang biasa diucapkan Brenda (nama samaran), salah seorang pemandu lagu di salah satu tempat karaoke ternama di Kota Blitar. Yakni ketika dia masuk room menemani para tamu (pengunjung) tempat karaoke.

Suaranya pun terdengar lebih halus, ramah, dan manja. Tangannya bersalaman dengan para tamu pria yang ada di dalam room sebelum memulai aksi yang lebih hangat. Semakin menarik mata lelaki karena baju yang dipakai mampu menonjolkan bagian tertentu tubuh Brenda. Dada dan bokong pun nyembul. Kulitnya kuning langsat dengan tinggi sekitar 160-an sentimeter cukup membuat para pria menelan ludah berkali-kali. Nada bicaranya pun manja.

Ketika duduk, dia menyingkap rambut panjang dengan tangan kanannya. Aroma minyak wangi menambah cerita untuk menggambarkan sosok Brenda. Terlihat kulit putih di bagian lehernya karena memang baju bagian atas kerap di bawah bahu. Begitu juga bagian bawah, yang hanya sampai di atas lutut menambah keseksiannya.

Itu semua diceritakan Brenda ketika wawancara dengan wartawan Jawa Pos Radar Blitar dua hari lalu. Namun, itu hanya secuil kisahnya ketika bekerja. Menyanyi, joged, bercanda, ngobrol, menuangkan minuman, nyuapin, dan mijitin, termasuk juga ketika tamu memberikan iming-iming rupiah dalam jumlah besar untuk lanjut berkencan di ranjang.

Wanita berusia 22 tahun itu juga meneceritakan, sebelum tempat karaoke ditutup seperti sekarang ini, dia mendapatkan keuntungan Rp 300 ribu per jam. Angka yang cukup fantastis memang.

Jumlah itu minimal. Sebab, masih bisa ditambah tip dari para tamu. Nominal tip yang diterima juga beragam. Yang jelas ratusan ribu, tergantung kepuasan tamu. Dalam sehari rata-rata bisa mengantongi Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Pascaditutup, paling banter hanya mengantongi uang Rp 350 ribu.

Jika dikalkulasi, penghasilan menjadi pemandu lagu atau sebagian orang menyebut dengan purel, bisa belasan bahkan puluhan juta. Tentu saja bisa dipakai hidup mewah. Mencicil mobil serta membeli sepeda motor; baju; peralatan make-up; dan masih banyak lagi.

(rt/abd/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia