Selasa, 17 Sep 2019
radartulungagung
icon-featured
Features

Moch. Husni Bobby Satriyo Bangkitkan Kembali Batik Tulis Majan

Kini Rambah Pasar Internasional

13 Januari 2019, 16: 30: 59 WIB | editor : Retta wulansari

LESTARIKAN BUDAYA: Moch. Husni Bobby Satriyo ketika menunjukkan hasil karya batik di galeri miliknya Jumat (11/1).

LESTARIKAN BUDAYA: Moch. Husni Bobby Satriyo ketika menunjukkan hasil karya batik di galeri miliknya Jumat (11/1). (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Sadar batik merupakan peninggalan leluhur yang harus terus dilestarikan. Hal itu menggugah Moch. Husni Bobby Satriyo untuk kembali bangkitkan seni batik tulis. Khususnya batik Majan, yakni salah satu batik tulis asli Kota Marmer. Bahkan, kini mulai rambah pasar internasional.

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI

Tak sulit menemukan kediaman Moch. Husni Bobby Satriyo yang berada di Dusun Cikalan, Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru. Di kediamannya yang khas dengan rumah tempo dulu ini, Bobby -sapaan akrabnya- melakukan proses pewarnaan pada kain-kain mori yang diberi motif.

Dibantu sang ayah, lembaran kain pun dicelupkan pada pewarna berulang kali agar mendapat intensitas warna sesuai yang diinginkan. “Saya dan bapak yang melakukan proses pewarnaan. Kalau ibu yang mencanting bersama dengan pecanting lain,” jelasnya seraya membentangkan kain batik yang telah diwarna untuk dijemur.

Dia menceritakan, seni membatik telah digeluti keluarganya secara turun-temurun. Dunia konveksi dan seni membatik bukan hal baru baginya. Bahkan, Bobby merupakan generasi keempat dari keluarganya yang memutuskan tetap melestarikan seni membatik ini.

Semasa muda, dia kerap membantu orang tua dalam pembuatan kain-kain batik. “Dulu zaman saya SMP sering bantu bapak. Saya selalu ikut proses pewarnaan. Sementara ibu bagian proses mencanting. Pasalnya, perempuan lebih telaten dan sabar,” ujarnya.

Namun, usaha membatik keluarganya sempat terhenti lantaran terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997-1998. Para pecanting di Desa Majan pun memutuskan untuk beralih pekerjaan demi terus memenuhi kebutuhan hidup.

Hingga 2012, pria berpostur tinggi ini berinisiatif untuk kembali membangkitkan seni membatik di daerahnya. Pasalnya, sejak zaman kerajaan, masyarakat Majan terkenal dengan mata pencaharian di bidang konveksi. Itu dibuktikan dengan banyaknya warga setempat yang berprofesi sebagai pecanting pada zaman dulu. “Kemampuan membatik itu turun-temurun dan rata-rata warga sini mampu. Sebab, semasa muda mereka memang para perajin batik,” terangnya.

Pria kelahiran 29 Desember 1978 ini lantas mengumpulkan para pecanting di sekitar rumahnya untuk kembali mengeksiskan seni membatik.

Demi kembali hidupkan kesenian membatik, dia rajin ikut berbagai pameran. Baik lokal Tulungagung maupun tingkat provinsi.

Tak hanya itu, aktif berbagai komunitas pecinta batik dan kerap ikuti perlombaan desain. Bahkan, dirinya berhasil meraih 10 besar lomba desain batik 2015 tingkat provinsi yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur.

Pada 2018, dia kembali meraih prestasi. Kali ini desain batiknya berhasil masuk nominasi desain terbaik nasional Lomba Selendang Adi Wastra Nusantara 2018 di Jakarta.

Pria yang hobi bermain sepak bola ini menjelaskan, batik khas Majan memiliki ciri khas. Yakni pada warna dan corak atau motif yang kuat. Untuk warna identik dengan warna bang-bangan atau penggunaan dominan warna merah. Warna merah diambil dari kulit buah jirak dan buah kudu.

Selain warna bang-bangan, juga warna wonopringgan atau dominan warna hitam dan soga (cokelat). Warna itu didapat dari pohon soga.

Dia menjelaskan, corak lereng atau berbentuk miring seperti parang menjadi primadona. Pasalnya, memiliki filosofi keagungan dan bersahaja. Motif itu pada zaman dahulu hanya boleh digunakan raja dan keluarganya.

Salah satu kesulitan dalam menjalani bisnisnya, batik tulis memerlukan pasar khusus. Pasalnya, harga yang ditawarkan juga khusus. Bahkan, proses pembuatan memerlukan waktu lebih lama dibanding batik cap menjadi salah satu kendala.

Namun, dengan memanfaatkan Instagram dan Facebook, dapat menjangkau pasar. Bahkan penjualan hingga Surabaya, Jogjakarta, dan Jakarta. “Batik tulis memang lebih eksklusif karena prosesnya lama dan harganya tidak murah. Yang akan datang, ikut promo ke India melalui asosiasi pecinta batik,” tandasnya. 

(rt/did/nda/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia