Senin, 17 Jun 2019
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Jembatan Ngujang 2 Usai Diresmikan Presiden Jokowi Beralih Fungsi

13 Januari 2019, 13: 01: 59 WIB | editor : Retta wulansari

CARI REZEKI: Beberapa PKL menjajakan barang dagangannya di sekitar Jembatan Ngujang 2.

CARI REZEKI: Beberapa PKL menjajakan barang dagangannya di sekitar Jembatan Ngujang 2. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RATU)

TULUNGAGUNG – Setiap pembangunan selalu berdampak positif dan negatif. Sejak diresmikan, Jembatan Ngujang 2 memang membawa dampak negatif bagi pengusaha perahu tambangan. Namun di sisi lain, membawa rezeki bagi pedagang kaki lima (PKL).

Kini di sekitar jembatan yang menghubungkan Desa Pucung Lor, Kecamatan Ngantru dan Desa Bukur, Kecamatan Sembergempol itu mulai banyak PKL. Mereka menjajakan barang dagangannya karena jembatan yang baru saja diresmikan Presiden Joko Widodo itu mulai didatangi masyarakat. Kedatangan mereka, selain hanya sekadar mencoba melintasi jembatan itu, juga berhenti sejenak menikmati pemandangan sekitar.

Menurut Purnomo, penjual es tebu dari Desa Wonorejo, dirinya pindah tempat berjualan. Sebelumnya berjualan di rumah, kini pindah di sekitar Jembatan Ngujang 2. “Saya baru berjualan di sini sekitar seminggu yang lalu,” katanya Minggu (13/1).

Kepindahan dirinya berjualan ke jembatan itu ternyata membawa rezeki. Bahkan mengalami peningkatkan. “Intensitas pembeli naik, meski tak banyak,” ujarnya.

Dia mengatakan, pada jam-jam tertentu, pengunjung Jembatan Ngujang 2 cukup ramai. Nah, pada momen itu, para PKL semakin banyak yang berjualan, “Ada sekitar 30 PKL yang biasa berjualan di sini. Bervariasi, ada yang jual pentol, nasi bungkus, es tebu, dan kopi,” jelasnya.

Tak dimungkiri, jembatan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Sebab di waktu tertentu, jembatan itu menjadi tempat rekreasi. “Kalau hari Minggu itu pasti ramai dari pagi sampai sore. Sedangkan yang berdatangan itu mulai dari yang berkeluarga sampai anak-anak muda,” jelasnya.

Dia melanjutkan, masyarakat yang berkunjung di jembatan itu, selain hanya ingin melintas, juga terkadang selfie dan nongkrong. “Setiap sore itu ramai pengunjung. Anak-anak muda yang paling banyak,” ungkapnya.

Di balik itu, meski jembatan sudah beroperasi dengan normal, proses pembangunan seperti rambu-rambu, lampu, paving, plengsengan, dan pembatas jalan belum sepenuhnya kelar. Itu menjadi kekhawatiran PKL ketika sudah selesai. “Belum tahu legal atau tidak berjualan di sini. Khawatirnya, nanti pembatas jalan itu dibuat pres atau tidak. Jika iya, berarti tidak ada ruang lagi bagi PKL,” jelasnya.

(rt/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia