Jumat, 22 Nov 2019
radartulungagung
icon-featured
Travelling

Tanpa Santan, Tetap Gurih, dan Bertabur Koya

14 Januari 2019, 11: 55: 59 WIB | editor : Retta wulansari

LEZAT: Sota ayam Surabaya buatan Cak Budi menggoda selera.

LEZAT: Sota ayam Surabaya buatan Cak Budi menggoda selera. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA)

Setelah beraktivitas setengah hari, tentu perut mulai keroncongan. Tanpa alarm, waktunya perut diisi. Nah, bagi penggemar kuliner, banyak menu yang bisa dipilih agar suara krucuk-krucuk di perut tidak berbunyi terus. Mungkin tidak ada salahnya mencoba SoYam alias soto ayam di area Jalan Supriyadi.

Budiono, penjual SoYam asli Surabaya ini mengungkapkan, untuk membuat kuah soto ayam Surabaya, perlu bahan-bahan seperti bawang putih, bawang merah, kunyit, jahe, ikan bandeng, daun jeruk, dan kemiri. “Bumbu-bumbu itu nanti diblender sampai halus, lalu siap digunakan membuat kuah soto,” ungkapnya.

Dia menambahkan, bumbu-bumbu yang dibutuhkan untuk masak tiap harinya itu sekitar 1 kilogram (kg). Kuah soto ini memang berbeda seperti soto pada umumnya di Tulungagung. Pasalnya, soto ini berwarna kuning mencolok dan kuahnya pun tidak terkesan kental. “Warna kuning soto itu dari kunir (kunyit). Sedangkan soto Surabaya ini tak memakai santan seperti soto di Tulungagung,” ujarnya.

Selain itu, ada keunikan-keunikan lain SoYam Cak Budi –sapaannya- ini. Termasuk penggunaan koya, ayam kampung, dan mi golok. Ketika ketiga unsur ini dicampur dalam sebuah mangkuk, rasa gurih, sedap, dan encer berkumpul menjadi satu. “Koya ini terbuat dari kerupuk udang yang digoreng lalu diblender. Untuk penyajiannya, ditaburkan merata di atas SoYam,” jelasnya.

Dia menambahkan, ayam yang digunakan jenis ayam kampung. Sedangkan untuk mi golok ini adalah mi berwarna bening. Penyajian SoYam ini cukup mudah. Hanya dengan memasukkan nasi dua entong, irisan ayam kampung, irisan kubis, mi golok, dan taburan koya.

Setiap hari, Cak Budi mengatakan, untuk masak kuah dua panci air ukuran penuh. Sedangkan ukuran kuah itu bisa membuat soto sampai seratus porsi. “Kalau sedang ramai itu bisa sampai seratus porsi, tapi kalau sepi antara 60-70 porsi per harinya” katanya.

Dia melanjutkan, pada hari-hari normal seperti Senin sampai Sabtu, buka pada 09.00–20.00 Wib. Sedangkan khusus hari Minggu itu buka lebih awal, mulai dari jam 06.00–13.00 Wib. “Minggu itu ramai yang datang karena ada banyak pejalan kaki dan pejoging yang mampir untuk makan. Oleh karena itu, pagi sudah buka dan sering kali pukul 12.00 itu sudah habis,” jelasnya.

Ketika SoYam ada di depan mata, tanpa menunggu lama, sambal dan kecap sudah disiapkan. Pembeli tinggal menambahkannya sesuai selera. Ketika sesuap sendok dimasukkan pada mulut, terasa khas koya yang gurih, rasa pedas, dan ditambah rasa jahe. “Itu bercampur menjadi satu,” ungkap Surya, pelanggan SoYa Cak Budi.

(rt/dre/red/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia