Selasa, 16 Jul 2019
radartulungagung
icon-featured
Trenggalek

Ombak Tinggi, Sebagian Tetap Melaut

14 Januari 2019, 13: 10: 59 WIB | editor : Retta wulansari

SANDAR: Perahu nelayan pancing yang tidak operasi di sisi timur dermaga Prigi.

SANDAR: Perahu nelayan pancing yang tidak operasi di sisi timur dermaga Prigi. (Agus muhaimin/Radar Trenggalek)

TRENGGALEK - Bayang-bayang cuaca buruk masih menyelimuti benak sebagian masyarakat di Kota Keripik Tempe. Namun tidak demikian dengan mereka yang beraktivitas di laut. Masih banyak nelayan Prigi yang mencoba mengais peruntungan dengan mencari ikan di laut. Sayang, arus bawah laut tidak begitu bersahabat sehingga hasil tangkapan ikan nelayan nyaris nihil. "Nelayan Prigi itu terkenal nekat. Meski ombak tinggi, kalau pas musim ikan ya tetap melaut," kata Dian, seorang nelayan.

Dia mengungkapkan, kini memang ombak laut terkadang cukup tinggi. Namun masih banyak nelayan yang tetap berangkat. Sementara ini memang tidak musim ikan sehingga jarang ada yang kembali ke darat dengan membawa ikan. "Musim ikan mungkin mulai Maret. Kalau saat ini belum," ungkapnya

Di sisi lain, biaya atau modal melaut juga tidak murah. Minimal sekali berangkat butuh sekitar 200 liter solar, belum termasuk biaya untuk memberi upah awak nelayan mencari ikan. Akibatnya, banyak nelayan yang memilih pasang jangkar alias tak melaut. "Satu, dua, kadang ada yang pulang bawa ikan teri kecil-kecil itu dan jumlahnya tak banyak,"katanya.

Sementara itu, Danang, seorang awak kapal mengaku, yang membuat hasil tangkapan melayan minim bukan karena ombak yang tinggi atau cuaca buruk. Melainkan arus bawah permukaaan laut cukup deras sehingga tidak gampang menangkap ikan. Sebagian nelayan menggunakan alternatif penerangan atau istilahnya nelayan obor dalam menangkap ikan. Dengan sarana penerangan tersebut, mereka berharap ikan berkumpul. Namun, itu juga tidak mesti membuahkan hasil yang memuaskan. "Ikan kecil-kecil yang biasanya ketangkap, tapi ya gitu. Karena arus deras, susah nangkapnya," jelas Danang.

Menurut dia, yang pendapatannya sedikit lumayan yakni nelayan pancing dan jaring tarik. Selain ikan karang, kini musim ikan layur sirip kuning yang biasanya ada di perairan dangkal. Ikan layur ini berbeda dengan jenis layur yang di perairan dalam, harganya lebih murah. "Normalnya sekitar 10 ribu per kilo. Kalau saat ini ikan layur ini harganya sampai Rp 20 ribu per kilo karena jarang ada ikan," katanya.

Meski demikian, pendapatan nelayan tidak bisa dipastikan. Kadang upaya mereka menangkap ikan di perairan dangkal ini berbuah manis. Kadang mereka juga hanya mengeluarkan modal yang tidak sebanding dengan pendapatan. "Untuk sekali tebar jaring, biaya minimal 1,5 juta bisa dapat dua keranjang. Kurang dari itu, mereka bisa impas, bisa juga rugi," jelasnya.

(rt/dre/muh/red/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia