Senin, 27 May 2019
radartulungagung
icon-featured
Ekonomi

Usaha Kerajinan Barongan

Lesu, Omzet Turun Hampir 50 Persen

19 Januari 2019, 17: 55: 59 WIB | editor : Retta wulansari

TETAP BERTAHAN: Afin Desta Chandra menunjukkan kerajinan barongan hasil produksinya.  CARI TEROBOSAN: Ivan Dwi Chandra Putra bersama hasil karyanya berupa barongan.

TETAP BERTAHAN: Afin Desta Chandra menunjukkan kerajinan barongan hasil produksinya. CARI TEROBOSAN: Ivan Dwi Chandra Putra bersama hasil karyanya berupa barongan. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/ RATU)

TULUNGAGUNG - Omzet perajin barongan di Kota Marmer tampaknya sedikit lesu beberapa tahun belakangan. Itu disebabkan sejak 2016, perajian barongan mulai menjamur, tapi pembeli cenderung stagnan. Kendati demikian, mereka tetap menggeluti usaha tersebut, lantaran masih menguntungkan meski tak sebanyak dahulu. Penurunan omzet juga dirasakan sebagian perajin barongan di Desa Balerejo, Kecamatan Kauman.

Setelah 2016 hingga kini, omzet perajin turun hampir 50 persen. Ini disebabkan permintaan konsumen menyusut. Sedangkan perajin barongan semakin banyak. “ Sebelum 2016 itu, permintaan ramai lima sampai enam barongan per bulan. Namun sekarang hanya dua permintaan dalam sebulan itu sudah bagus. Karena kadang, satu bulan itu tidak ada permintaan,” ungkap Afin Desta Chandra, salah seorang perajin barongan dari Dusun Surenpaten, Desa Balerejo, Kecamatan Kauman.

Dia melanjutkan, sebelum 2016 memang omzet masih tinggi. Per bulan dapat penghasilan Rp 2,5 hingga Rp 3 juta. Tapi kini menyisakan Rp 1 hingga Rp 1,5 juta. Meski demikian, usaha yang digelutinya tetap diteruskan. “Tetap saya teruskan, tapi juga saya sambi mencari penghasilan lain,” ungkapnya.

Dampak turunnya permintaan itu membuat Afin -sapaan akrabnya- mencari penghasilan tambahan dengan kerja sebagai pemain kendang. “Karena omzet kian turun, saya bekerja tambahan. Dan karena usaha barongan sudah lama, apalagi dahulu pernah menjual sampai luar pulau, jadi terasa sayang mau melepas usaha ini,” jelasnya.

Afin mengaku, sebelum 2016 penjualan barongan ke luar pulau lebih sering, paling tidak enam kali. Pesanan tersebut berasal dari Samarinda (Kalimatan Timur) dan Jambi. “Di luar pulau, orang Jawa banyak yang mengembangkan seni jaranan. Karena itu pasar sampai luar pulau. Tapi sering kali saya menjual full set yakni barong, baju, celana, dan kain penutup. Itu seharga 5 juta,” jelasnya.

Namun, kini Afin tak lagi mengukir barongan karena keterbatasan waktu dengan jadwal pekerjaan lain. Namun sebelumnya, proses dari nol, seperti mengukir sampai siap jual itu dilakukannya dengan telaten. “Sekarang tak ada waktu untuk mengukir. Karena itu saya beli barongan yang sudah diukir. Dengan barongan itu, nanti saya lanjutkan. Seperti merapikan, memoles, menambah sisik dan jamang, serta melukis barong,” jelasnya.

(rt/pur/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia