Sabtu, 23 Feb 2019
radartulungagung
icon-featured
Politik

Pemilih Pemula Bingung Nyoblos Caleg

Tak Tahu Siapa Mereka dan Visi-Misinya

25 Januari 2019, 23: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

AKTIF : Salah satu pemilih pemula yang masih duduk di bangku SMA sedang mencari informasi terkait pemilu.

AKTIF : Salah satu pemilih pemula yang masih duduk di bangku SMA sedang mencari informasi terkait pemilu. (SITI NURUL LAILIL MA’RIFAH/RATU)

TULUNGAGUNG - Sesuai Undang-undang (UU) Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu memberikan jaminan bagi pemilih pemula pada 17 April 2019 yang genap berusia 17 tahun bisa menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2019. Secara kuantitatif, jumlah pemilih pemula cukup besar dan berkontribusi signifikan bagi kemenangan capres-cawapres maupun pemilihan anggota DPR, DPD, dan DPRD atau pemilu legislatif (pileg). Namun pada kenyataannya, mereka tidak memakai hak pilihnya.

Hal ini karena belum berpengalaman dalam pemilu, belum mengetahui siapa yang mencalonkan atau maju dalam pileg, belum memahami visi dan misi para calon pileg serta berbagai masih banyak lain.

Sindy Safira, seorang pemilih pemula yang masih duduk di bangku SMA mengatakan, tahun pemilu ini merupakan pengalaman pertamanya. Jadi dirinya masih bingung dengan pemilihan ini. Apalagi untuk pileg. Sampai sekarang belum dan tidak kenal siapa caleg yang mencalonkan diri, begitu juga visi dan misinya.

Padahal, seharusnya dirinya diberi pemahaman terkait apa pemilu, bagaimana prosedurnya, serta apa itu caleg terlebih dahulu. Selain itu, juga diberi tahu siapa saja dan bagaimana visi misinya. Sebagai pemilih pemula, dia bisa memberikan harapan kemajuan daerah dari pilihannya tersebut. "Kalau capres dan cawapres tahu, tapi kalau pileg belum tahu. Hanya sekadar tahu gambar di pinggir jalan itu," ungkap gadis berusia 17 tahun ini.

Meski demikian, Sindy berharap para caleg atau bahkan capres dan cawapres yang terpilih harus benar memegang amanatnya. Khususnya di Tulungagung, caleg seharusnya pintar memiliki terobosan dan mampu mengambil hati pemilih lewat ide dan gagasannya yang aplikatif, kreatif, dan juga kekinian. Selain itu, juga harus mumpuni, memahami, dan menyelesaikan berbagai permasalahan daerah. "Kalau bisa, mereka (anggota legislatif terpilih, Red) juga harus terjun ke lapangan untuk mengetahui real keadaan wilayahnya. Misal nih, terkait pemerintah membangun infrastruktur. Tidak hanya menyetujui sebatas kertas, tapi juga harus ikut mengawasi apakah progres kerjanya benar atau tidak," jelas gadis asal Besole, Kecamatan Besuki ini.

Hal senada juga diungkapkan Resita Apreliawati. Gadis asal Desa Segawe, Kecamatan Pagerwojo ini. Dia mengaku baru pertama ikut pemilu capres-cawapres dan pileg. Meski begitu, secara pribadi dia tidak tertarik dengan hal-hal berbau politik. Dia tidak mengikuti perkembangan politik di tanah air, baik isu di media sosial (medsos) maupun di kehidupan nyata. "Saya tahu banyak politikus yang terjerat kasus korupsi dan ditangkap KPK. Kondisi demikian secara tidak langsung turut mempengaruhi sikap saya yang belakangan hari mulai agak apatis dan tidak peduli dengan para caleg," jelasnya

Meski demikian, dia juga tak ingin membuang kesempatan untuk memilih. Dia berharap, caleg khususnya bisa membuat semacam strategi agar bisa menyentuh langsung kaum mileneal seperti dia. Terkait visi misinya, sebisanya harus realistis.

"Siapapun caleg yang maju, baik masih muda atau pun sudah berusia, itu tak berpengaruh dengan pilihan saya. Terpenting memiliki komitmen untuk membangun bangsa dan menjadi jembatan aspirasi rakyat," tegasnya.

(rt/lai/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia