Senin, 09 Dec 2019
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Marak DBD, Fogging Lapas

31 Januari 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

CEGAH PENYAKIT: Salah satu petugas ketika fogging di Lapas Kelas II B Tulungagung Rabu (30/1).

CEGAH PENYAKIT: Salah satu petugas ketika fogging di Lapas Kelas II B Tulungagung Rabu (30/1). (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

TULUNGAGUNG – Marak kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Marmer membuat pihak Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II B Tulungagung bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung lakukan pengasapan (fogging). Itu sebagai langkah pencegahan sekaligus menekan angka penyakit tersebut. “Indonesia sedang terjangkit DBD. Jadi diupayakan untuk dilakukan fogging, bekerja sama dengan dinas terkait,” ujar Kepala Lapas II B Tulungagung Erry Taruna Rabu (30/1).

Meski tidak ada kasus DBD di dalam lapas, upaya fogging tetap dilakukan guna antisipasi serangan nyamuk Aedes aegypti yang dimungkinkan menjangkiti warga binaan. Sebab, serangan DBD sudah menyerang lingkungan sekitar lapas.

Tak hanya itu, kondisi lapas yang tertutup juga rawan terjangkit DBD. Jika ada salah satu warga binaan yang terserang, maka dapat dipastikan akan menularkan pada warga binaan lain. “Untuk lapas alhamdulillah tidak ada. Namun kemarin di kompleks sekitar lapas ada yang kena jadi kami upayakan tindakan preventif,” terangnya.

Selain dengan pengasapan, upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) juga dilakukan. Terutama lokasi rawan tergenang air. Pasalnya dapat dijadikan tempat berkembangnya jentik-jentik nyamuk. Rutin melakukan pembersihan lingkungan lapas dan kerja bakti setiap Sabtu menjadi salah satu agenda untuk lakukan PSN. “Untuk kebersihan rutin setiap hari, tiap Sabtu sehabis kegiatan olahraga juga bersih-bersih bersama. Terutama lokasi yang rawan tergenang air,” jelasnya.

Sementara itu, Kasi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Tulungagung, Didik Eka membenarkan tindakan fogging sebagai salah satu antisipasi agar warga binaan tidak terkena DBD. Kondisi lingkungan yang tertutup dapat menjadi faktor risiko. “Sebagai upaya preventif agar warga binaan tidak terkena DBD. Jika ada yang kena, kemungkinan dapat menular pada warga binaan yang lain,” tandasnya.

Hingga kini, di sepanjang Januari 2019, kasus DBD di kabupaten ini tercatat sebanyak 250 kasus dengan tiga kasus meninggal dunia. Untuk menekan kasus DBD, dinkes mengimbau masyarakat untuk lakukan upaya PSN dengan gerakan 3M plus. Setidaknya seminggu sekali periksa dan buang genangan air di setiap tempat yang dijadikan penampungan air. Membuang barang-barang yang sudah tidak terpakai agar tidak dijadikan sarang nyamuk. Menutup wadah atau tempat-tempat penampungan air agar nyamuk tidak bisa masuk dan bertelur. Menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan losion anti nyamuk dan memasang kasa pada ventilasi juga menjadi upaya preventif. “Kesadaran untuk melakukan upaya preventif memang harus terus digalakkan. Ini untuk menekan angka DBD,” pungkasnya.

(rt/nda/did/red/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia