Sabtu, 19 Oct 2019
radartulungagung
icon-featured
Ekonomi

Omzet Tak Tentu, Keuntungan Tergantung Jumlah Pesanan

02 Februari 2019, 18: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

CEK : Putut ketika memainkan kendang yang baru diservis.

CEK : Putut ketika memainkan kendang yang baru diservis. (FOTO-FOTO SITI NURUL LAILIL M/RATU)

Kendang merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul. Biasa dimainkan dengan tangan atau dengan alat pemukul kendang. Hampir semua daerah di Indonesia memiliki kendang dengan ciri khas masing-masing. Apalagi dalam gamelan Jawa, kendang ini berfungsi utama dalam mengatur irama.

Namun sayangnya, keberadaan alat musik modern membuat alat musik tradisional tersebut semakin tersingkirkan. Hal itu berdampak pada perajin kerajinan kendang. Jumlah produksi semakin menurun. Meski demikian, tak membuat seorang perajin kendang, Putut Harilaksono, patah semangat. Dia terus bertahan dan tetap produksi kendang. Meski hanya menggarap ketika hanya ada pesanan. "Tidak banyak yang bertahan. Begitu juga saya. Hanya buat ketika ada pesanan aja," katanya.

Pria 26 tahun ini mengatakan, usaha kendang ini bisa menambah pendapatannya selain menjadi seniman kendang. Memulai usaha tersebut, kata Putut, tidak butuh modal yang banyak. Untuk bahan baku yakni kayu pohon nangka, dihargai sekitar Rp 700 ribu. Juga dibutuhkan kulit sapi atau kerbau sebagai membran untuk menghasilkan bunyi tetabuhan yang didapat dengan harga Rp 150-200 ribu per kilogram.

"Kulit sapi ini biasanya saya beli di daerah Kelurahan Sembung, Kecamatan Tulungagung, di sentra rambak itu," katanya.

Nah untuk pemesan, kata Putut, ada dari lokal (Tulungagung), Kediri, Trenggalek, hingga luar Jawa seperti Papua. Rerata pemesan adalah seniman. Untuk harga kendang. sepadan dengan proses pembuatan yang memakan waktu tak sedikit. yaitu sekitar 2 minggu. Putut memasang harga kendang ukir sekitar Rp 1,5 juta, sedangkan nonukir Rp 1,3 juta. "Saya buat kendang ciblon, sabet, jaipong, dan lainnya. Kalau jaipong, sepaket dihargai Rp 3,5 juta," terang warga Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru ini.

Putut mengatakan, kini pihaknya biasa terima kurang lebih lima pesanan kendang per bulan. Ditanya omzet? Tergantung dengan jumlah dan jenis kendang yang dipesan. "Kalau ditanya keuntungan per bulan rata-rata tidak bisa. Sebab, tergantung ada pesanan atau tidak. Kalau kondisi seperti ini bisa ramai dan juga sepi. Tapi keuntungan dari kerajinan tersebut bisa menambah penghasilan untuk keluarga," jelasnya.

(rt/lai/dre/red/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia