Selasa, 12 Nov 2019
radartulungagung
icon-featured
Ekonomi

Zaman Berubah, Kerajinan Bambu Masih Primadona

07 Februari 2019, 17: 35: 59 WIB | editor : Retta wulansari

CEKATAN: Warga sedang menganyam bambu.

CEKATAN: Warga sedang menganyam bambu. (IMROATUS FOR RATU)

TULUNGAGUNG - Kendati zaman berubah, produk kerajinan anyaman bambu masih menjadi primadona masyarakat. Salah satu sentranya yang sampai sekarang masih bertahan yakni di Desa Kiping, Kecamatan Gondang. Meski tak sejaya dulu, kerajinan bambu masih menjadi sumber penghasilan sampingan masyarakat desa setempat.

Salah satu pelaku usaha anyaman yang bertahan yakni Imroatus Solekah. Wanita asal Dusun Deres, Desa Kiping, ini mengaku usaha anyaman tersebut merupakan usaha keluarganya. Namun, baru dia kelola dengan manajemen yang lebih tertata semenjak mendirikan pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang diselenggarakan oleh pendidikan nonformal Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dispendikpora) Kabupaten Tulungagung.

“Setelah membuka PKBM itu, saya juga mengadakan berbagai pelatihan keterampilan anyaman pada tahun 2014 lalu. Pelatihan itu, selain untuk warga sekitar, juga mencangkup anak-anak putus sekolah,” jelasnya

Dia menjelaskan, dari pendirian PKBM itu, sudah ada sekitar 50 orang yang menjadi anggota. Namun, anggota tersebut bukan sebagai karyawan, melainkan mitra kerja.

Nah, untuk bentuk produk anyamannya, di antaranya untuk kotak nasi, tempat sambal, serta tempat tape atau keripik tempe. Setiap hari produksi sekitar 100 pasang dengan berbagai ukuran dan bentuk.

Pemasaran dilakukan melalui online dan offline, serta bergabung di grup UMKM Tulungagung. Selain itu, juga sering mengikuti pameran yang diselenggarakan dinas koperasi, dispendikpora, serta dinas perindustrian dan perdagangan. Usaha anyaman ini pun disebut sebagai salah satu produk unggulan Desa Kiping.

“Ada dua jenisnya, besek cantik dan biasa. Kalau besek cantik biasanya untuk kotak nasi, sambal, dan lainnya. Kalau biasa untuk tape atau keripik tempe,” jelasnya

Pemesan anyaman tersebut berasal dari lokal hingga luar pulau. Misalnya Tulungagung, Blitar, Kediri, Bali, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, Kalimantan, hingga Batam. Untuk omzet per bulan, bisa sampai Rp 1-2 juta.

“Cocok, usaha itu bisa menambah penghasilan keluarga,” tambahnya.

(rt/lai/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia