Minggu, 08 Dec 2019
radartulungagung
icon-featured
Features

Cerita Sulitnya Menemukan Nisan Makam Menak Sopal (1)

08 Februari 2019, 22: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

BELUM TERKUAK: TACB dari Provinsi Jatim ketika mencari data untuk menguak hilangnya batu nisan di makam Menak Sopal.

BELUM TERKUAK: TACB dari Provinsi Jatim ketika mencari data untuk menguak hilangnya batu nisan di makam Menak Sopal. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

Beberapa Minggu (20/1) lalu, sebagian masyarakat Kota Keripik Tempe khususnya para pecinta benda cagar budaya dibuat tercengang akan hilangnya dua buah batu nisan di wilayah makam Ki Ageng Menak Sopal. Untuk itu, berbagai upaya telah dilakukan pihak terkait dalam upaya mencari keberadaan benda cagar budaya tersebut. Salah satunya, mendatangkan ahli cagar budaya.

ZAKI JAZAI

Dua unit mobil terparkir di area makam Ki Ageng Menak Sopal yang masuk Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek Kamis (7/2). Terlihat beberapa orang turun dari dalam mobil dan langsung menuju dua makam Ki Ageng Menak Sopal dan sang ibu, Dewi Roro Amiswati, yang batu nisan di bagian kaki hilang. Bersamaan itu, mereka langsung disambut juru pelihara (jupel) makam yang bernama Na’im. Jupel makam itu pun langsung menceritakan kronologi pencurian yang diperkirakan terjadi pada malam hari.

Setelah mendengarkan cerita dan kronologi dari jupel, mereka pun langsung membagi tugas. Ada yang mengamatI bagian makam yang dicuri, mencatat beberapa hal yang diperlukan seperti jenis bebatuan yang digunakan untuk batu nisan serta corak yang ada, hingga melakukan dokumentasi. Ya, mereka adalah tim ahli cagar budaya dari Dinas Kebudayaan, dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur (Jatim) yang sengaja datang untuk menginventarisasi benda cagar budaya tersebut. “Peninjauan ini kami lakukan karena pada sekitar akhir Januari lalu ada laporan tentang hilangnya dua benda di sini,” ungkap pemimpin rombongan ahli cagar budaya, Endang Prasanti.

Sebab, kendati ada beberapa benda yang hilang seperti dua wadah bunga dari anyaman bambu, buku absensi, serta topi hitam (kopyah) jupel, yang paling menyita perhatian adalah hilangnya dua batu nisan yang berukiran kerangka tahun dan pohon jenar. Dari hilangnya benda tersebut, yang menjadi substansi permasalahan adalah kurangnya peran sertanya masyarakat dalam menjaga benda cagar budaya di daerahnya. “Dari hilangnya benda cagar budaya ini, berita bagusnya adalah polisi mulai menindaklanjutinya. Selain pencuriannya, terpenting masyarakat bekerja sama dalam menjaga benda cagar budaya,” ungkapnya.

(rt/zak/did/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia