Selasa, 19 Feb 2019
radartulungagung
icon-featured
Ekonomi

Dupa Tambah Pendapatan Warga

09 Februari 2019, 17: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

TERIK: Teguh sedang menjemur dupa di bawah sinar matahari.

TERIK: Teguh sedang menjemur dupa di bawah sinar matahari. (SITI NURUL LAILIL MA’RIFAH/RATU)

Tulungagung tidak hanya terkenal seni dan budayanya, tapi di Kota Marmer ini menjamur usaha kecil menengah (UKM) yang menjadi penopang ekonomi warganya. Salah satunya usaha dupa atau hio.

Ya, usaha tersebut bisa ditemui di Desa Tunggulsari, Kecamatan Kedungwaru. Usaha itu milik Teguh Widodo. Setiap hari, usaha yang dirintis sejak 2013 lalu ini mampu menghasilkan 3 sampai 4 kuintal dupa atau sekitar 2.800 batang dupa, tergantung panjang dan diameter badan dupa. “Satu kilogram itu sekitar 400 sampai 700 batang dupa, tergantung panjang dan diameternya,” ucap Teguh saat ditemuinya Jumat (8/2).

Produksi sebanyak itu tidak dikerjakan sendirian, tapi melibatkan banyak tenaga kerja. “Dari situ tercipta lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Kini kami dibantu sekitar sepuluh tim. Satu tim itu biasanya satu kepala keluarga, bisa terdiri anak dan bapak atau suami istri," jelasnya.

Untuk pemasarannya, dupa yang juga disebut yoshua oleh warga Tionghoa ini sebagian besar dikirim ke Bali dan Lombok. Namun, ada juga beberapa pelanggan seperti dari Surabaya dan kota besar lainnya. Untuk lokalan, kata Teguh, juga ada, tapi jumlahnya tidak signifikan. "Persaingan usaha ini cukup ketat. Namun kami berusaha memberikan pelayanan terbaik agar pelanggan kami puas," jelasnya. 

Produk dupanya, lanjut Teguh, disesuaikan dengan pesanan. Ada yang memesan dupa dengan bubuk kayu menggunakan perpaduan antara kayu merbau dan batok kelapa maupun kayu jati. Tapi juga ada yang memesan dupa dengan khas kayu gaharu sebagai bubuk kayu dalam dupa tersebut. "Untuk harga, tergantung ukuran dan diameternya. Mulai 15 ribu hingga 30 ribu rupiah per kilogram," jelasnya.

Menjelang Imlek beberapa waktu lalu, pria ramah ini mengaku ada peningkatan permintaan dupa sebesar 25 persen. Berbeda dengan momen perayaan Galungan di Pulau Dewata, meningkat hingga 100 persen. Sebab, aktivitas peribadatan umat Hindu Bali masih kental dengan penggunaan dupa. "Ya, bisa meningkat sampai 100 persen lebih lah. Apalagi perayaan galungan itu dilakukan enam bulan sekali," katanya.

Dupa yang dikirim ke Bali masih setengah jadi. Dirinya hanya mengirim dupa batangan tanpa diberi pewangi. Pemberian pewangi dilakukan oleh pembelinya di Bali. “Wanginya dari parfum, yang beri perusahaan yang ada di Bali,” kata pria asli Lumajang itu.

Sementara itu, salah satu perajin dupa lain di Desa Tunggulsari, Hariyadi mengatakan, kerajinan dupa ini memberikan lapangan pekerjaan pada warga sekitar. Termasuk keluargannya. Hasilnya, dibantu istri, sehari bisa memproduksi 40 sampai 60 kilogram dengan berbagai ukuran dan diameter.

"Kalau di keluarga kami, hanya saya dan dibantu istri. Saya bagian memasang lidinya. Sedangkan istri bagian cek apakah dupa itu sempurna atau tidak. Mengingat kami sudah dibantu dengan menggunakan mesin," tandasnya. 

(rt/lai/dre/red/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia