Senin, 26 Aug 2019
radartulungagung
icon-featured
Features

Nasib Para Perajin Gerabah di Kelurahan Tamanan (3 Habis)

11 Februari 2019, 03: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

TRADISIONAL: Mbok Jami sedang membuat kuali dari tanah liat di rumahnya, Kelurahan Tamanan, Jumat (8/2).

TRADISIONAL: Mbok Jami sedang membuat kuali dari tanah liat di rumahnya, Kelurahan Tamanan, Jumat (8/2). (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

Dalam beberapa dekade lalu, Kelurahan Tamanan, Kecamatan Trenggalek, menjadi sentral industri gerabah. Nyaris setiap rumah membuat kerajinan berbahan olahan tanah liat. Kini, industri itu hanya menyisakan sekitar 8 perajin saja. Padahal, usaha gerabah dirasa masih cukup menjanjikan.

AGUS MUHAIMIN

Dalam sebulan, rata-rata ada ratusan atau bahkan ribuan gerabah yang mampu dia produksi oleh perajin gerabah di Kelurahan Tamanan. Biasanya, sudah ada pembeli yang datang untuk mengambil saat produk tersebut siap diedarkan. “Kalau cuaca normal itu kami bisa bakar gerabah tiga kali, kalau musim hujan seperi ini, dua kali bakar saja sudah bagus,” ucap Mbah Suminah, perajin gerabah lain.

Sedikitnya, ada 300 buah gerabah berbagai jenis dalam satu kali proses pembakaran. Mulai dari kuali, kekep, kreweng, kendil, cobek, dan lainnya. Jika dinominalkan, minimal ada sekitar Rp 1,5 juta total nilai produk yang dibakar tersebut.

Jika dilihat dari nilainya, produk gerabah kini lebih bagus ketimbang zaman dulu saat semua orang belum memanfaatkan metal untuk keperluan dapur. Namun, yang susah saat ini adalah mencari pedagang yang memiliki kemampuan keuangan yang baik. Artinya, bisa membayar charge kepada perajin.

Mbah Suminah dan Mbok Jarmi memaklumi, bukan perkara gampang untuk memasarkan produk gerabah. Kendati produk ini masuk pasar industri kuliner, tentunya tidak setiap bulan mereka ganti perabotan. Dalam hal ini, campur tangan pemerintah sangat dibutuhkan.

(rt/did/muh/red/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia