Kamis, 25 Apr 2019
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Petani Hidroponik Terkendala Modal dan Pemasaran

11 Februari 2019, 14: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

BUTUH PERHATIAN: Warga Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru, menujukkan usaha hidroponiknya.

BUTUH PERHATIAN: Warga Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru, menujukkan usaha hidroponiknya. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RATU)

TULUNGAGUNG – Petani hidroponik masih menghadapi masalah untuk mengembangkan usaha tersebut. Hingga kini tetap minim perhatian dari pemerintah, terutama terkait pemasaran dan modal.

Wajar jika petani hidroponik terpaksa berjuang sendiri untuk tetap bisa bertahan mengelola usaha itu. “Belum ada dukungan pemerintah dalam pemasaran. Jika ada tim pemasaran, petani hidroponik bisa terus produksi sayur tanpa bingung pembeli,” terang petani hidroponik, warga Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru, Mochammad Mustofa Minggu (10/2).

Dia sudah menekuni tani hidroponik selama tiga tahun dan memasarkan sendiri. Rata-rata peminat tanamannya dari toko modern dan pelanggan lewat online.

Selain itu, kendala dihadapi pembuatan medium hidroponik yakni butuh biaya mahal, Rp 2 juta per 120 lubang. Meski demikian, biaya pengeluaran bisa tertutupi jika petani hidroponik telaten mengembangkan usaha.

Apalagi lahan untuk kembangkan sistem hidroponik hanya tanah ukuran 10 x 5 meter. “Lahan itu sudah bisa menampung 750 lubang. Artinya, kapasitas sayuran dan tanaman bisa sampai 750 biji,” ungkapnya.

Dia menambahkan, jika dihitung per 120 lubang ditanami selada, bisa datangkan omzet lebih dari Rp 3 juta. “Sebenarnya persoalan ada pada minat warga. Warga sekitar sini rata-rata penjahit. Jadi kurang antusias di bidang pertanian,” tandasnya.

Dia mengaku beberapa kali alat hidroponiknya dilihat pemerintah desa dan dinas ketahanan pangan. Dari situ, muncul wacana untuk kembangkan wisata tani hidroponik di Desa Majan. Bahkan, hasil musyawarah desa (musdes) antusias dengan program hidroponik. Namun sampai kini tak ada perkembangannya. “Ada empat rumah yang sudah mengembangkan hidroponik, hanya saya masih berjalan sampai sekarang,” katanya.

Hal senada diungkapkan petani hidroponik asal desa setempat, Ahmad Amirudin. Dia mengatakan, untuk menghasilkan sayur berkualitas, tergantung benih. Harga benih impor Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu per 1.000 biji. Sedangkan benih lokal sekitar Rp 15 ribu sampai Rp 30 ribu per 0,5 gram.

(rt/pur/did/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia