Rabu, 11 Dec 2019
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Masih Layani Pesanan, Tembus Luar Pulau

15 Februari 2019, 01: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

BELUM KELAR : Barongan yang belum dicat

BELUM KELAR : Barongan yang belum dicat (SITI NURUL LAILIL/RATU)

TULUNGAGUNG - Kabupaten ini tak sekadar dikenal dengan kerajinan marmernya saja, tapi karena warisan budaya. Potensi lokal dari warisan budaya yang dimiliki, mampu menggeliatkan perekonomian desa dan meningkatkan kesejahteraan bagi perajin usaha mikro. Setiap desa memiliki kekhasan atau penonjolan karakteristik alam maupun sosial kultural dan aspek lainnya.

Seperti keberadaan kerajinan barongan khas warga Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru. Kerajinan tersebut mampu menjadi salah satu usaha sampingan yang cukup menjanjikan. Tak ayal, keberadaannya mampu menggeliatkan ekonomi warga. "Lumayan hasilnya, sebanding dengan proses pembuatannya yang cukup lama," ucap Putut Harilaksono, seorang perajin barongan di Desa Bangoan.

Dia mengatakan, di era modern seperti ini, pemesan barongan masih cukup banyak. Ada pesanan dari lokal seperti Tulungagung, Kediri, dan Trenggalek. Ada juga pesanan dari luar Jawa seperti Kalimantan.

Rata-rata dia bisa mendapatkan pesanan 3-5 barongan per tahun. Pemesan biasanya memesan barongan versi klasik atau Kedirian. Meski hanya pekerjaan sampingan, hasil tiap barongan bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. "Pengerjaan sekitar dua bulanan. Untuk harga, mulai dari Rp 4,5 juta sampai Rp 6 jutaan," tambahnya

Pria 26 tahun ini menjelaskan, mahalnya harga barongan tersebut terdapat pada proses pengerjaannya. Butuh keuletan dan ketelatenan dalam membuatnya. Mengingat barongan tersebut tak asal dibuat, ada pakem tersendiri. Misal versi Tulungagungan, cirinya dahi tinggi, bibir njedir, dan kelopak mata tebal. Untuk bahan, proses pembuatan barongan membutuhkan kayu waru yang biasa dibeli seharga Rp 500-600 ribu per pohon. Pemilihan bahan tersebut, selain murah, juga lebih awet dan ringan. Selain itu, juga lebih mudah diukir. "Untuk jamang, kami biasanya butuh sekitar dua kilogram (kg) kulit sapi atau kerbau. Tapi biasanya banyak yang memesan kulit kerbau karena lebih awet dan seratnya kencang," tambahnya.

Putut mengatakan, banyak warga Desa Bangoan yang menjadi perajin barongan. Rata-rata latar belakang perajin barongan merupakan penggiat seni. Tak heran, kerajinan barongan juga menjadi salah satu potensi unggulan desa. "Saya dulu sampai sekarang juga penggiat seni," katanya. 

(rt/lai/dre/red/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia