Senin, 09 Dec 2019
radartulungagung
icon-featured
Features

Cerita Kader Jumantik Sosialisasi dan Perangi Jentik Nyamuk (2)

16 Februari 2019, 02: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

JAGA LINGKUNGAN: Warga Kecamatan Pogalan membersihkan area Puskesmas Pogalan.

JAGA LINGKUNGAN: Warga Kecamatan Pogalan membersihkan area Puskesmas Pogalan. (TEGUH FOR RADAR TRENGGALEK)

Banyaknya pasien demam berdarah (DB) di Kota Keripik Tempe, bahkan tiga di antaranya meninggal dunia awal tahun ini, menuntut juru pemantau jentik (jumantik) kerja keras. Mereka berperan cukup besar menanggulangi penyakit yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Mereka bukan pegawai, melainkan relawan yang menyatakan perang terhadap DBD.

AGUS MUHAIMIN

Sunarsih menyadari, kondisi masyarakat berbeda-beda. Bagi orang berkecukupan, tentu senang hati mempersilakan orang lain yang ingin melihat kondisi kamar mandi mereka yang bersih. Sebaliknya, mereka dengan kemampuan terbatas terkadang belum bisa membangun sarana bersih diri ini dengan layak. Akibatnya, mereka menolak karena tak ingin menunjukkan kekurangan tersebut.

Dalam hal ini, Sunarsih harus bisa menyelami psikologi warga. Sebab, sebagai seorang kader atau relawan yang mengampanyekan perang terhadap nyamuk, kepentingan pencegahan penularan penyakit tentu menjadi hal yang lebih prioritas. “Memang harus hati-hati. Jangan sampai menyinggung orang lain, tujuan kita itu baik,” ujarnya Kamis (14/2).

Bagi Sunarsih, jurus yang paling ampuh kini adalah mengemukakan fakta. Banyaknya kasus dan sejumlah korban nyamuk Aedes aegypti tahun ini, sedikit banyak memudahkan tugasnya memberikan penyadaran tentang bahayanya perkembangan nyamuk tersebut. “Saya juga bilang, kalau gak kober nguras yo gak apa-apa (kalau tidak sempat menguras yang tidak apa-apa), tapi dikasih obat agar jentik nyamuknya mati,” imbuhnya.

Kewajiban melakukukan pemantauan kepada warga ini minimal dilakukan tiga bulan sekali. Ada puluhan keluarga menjadi tanggungan pantau Sunarsih. Itu setelah dibagi dengan beberapa kader jumantik lain di desa tersebut. Mereka bertugas secara sukarela alias tidak mendapatkan upah.

(rt/dre/muh/red/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia