Selasa, 16 Jul 2019
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Medsos Pengaruhi Psikologis Anak

16 Februari 2019, 22: 30: 59 WIB | editor : Retta wulansari

Medsos Pengaruhi Psikologis Anak

(SUMBER DOSEN PSIKOLOGI KLINIS)

TULUNGAGUNG -  Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, terkait kasus yang melibatkan anak di bawah umur, dosen psikologi klinis IAIN Tulungagung, Arman Marwing mengatakan, keterlibatan anak di bawah umur terjerat kasus hingga kepolisian, dipengaruhi dua faktor. “Pertama, faktor intrinsik atau determinan individu. Misalnya sifat, watak, atau karakter. Bahkan kepribadian cenderug emosional,” jelasnya.

Faktor kedua dipengaruhi lingkungan. Contohnya, dari model orang tua yang setiap hari bersama anak, saudara, serta teman sebaya.

Selain itu, media sosial (medsos) juga ikut memengaruhi. “Kalau dari orang tua mengajarkan kedisiplinan menjadi hal wajar untuk membentuk karakter,” ungkapnya.

Langkah menertibkan anak akan lebih mudah jika menggunakan kekerasan, tapi itu akan menunjukkan ketidakmampuan mengontrol situasi. Dengan begitu, anak akan cenderung diam dan akan menjadi hipokrit atau suka pura-pura. “Saat orang tua melihat anak ribut dan dibentak, anak akan langsung diam. Namun ketika respons yang membuat dia diam hilang, anak akan berbuat kembali,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, memberi pengertian kepada anak sekaligus memberikan model atau figur yang positif merupakan jalan terbaik untuk meminimalkan anak melakukan kekerasan dengan teman sebaya.

Memang, medsos juga tidak bisa dipisahkan kepada anak milenial seperti kini. Hampir semua anak berinteraksi dengan dengan Android dibanding dengan tatap muka. Itu menjadi acuan secara general, termasuk kekerasan akan mudah diinternalisasi pada diri remaja. “Dampak sering menggunakan medsos terutama dalam dunia nyata, kurang kasih sayang, kurang perhatian dari orang tua,” ujarnya.

Dampak lainnya, mereka akan melakukan perbuatan apapun untuk dapat pengakuan dari orang lain. Seperti membuat kegaduhan, membuat ketidaknyamanan orang lain, bahkan bertindak keji hingga tega membunuh. “Mereka tidak merasa bersalah. Selain di bawah pengaruh alcohol, juga mengejar pengakuan di media sosial atau teman-teman agar dianggap jago,” jelasnya.

Dengan demikian, medsos berdampak luar biasa karena langsung berkaitan dengan harga diri anak dan remaja. Mereka sekali ditantang melakukan sesuatu yang di luar nalar, bahkan kriminal pasti akan dilakukan. “Nanti mereka sadar apabila sudah terkena hukuman pidana,” jelasnya.

Lanjut dia, anak yang menginjak remaja butuhkan aktualisasi diri. Jika tidak diarahkan dan didukung secara positif, akan cenderung mencari pengakuan dari orang lain, meskipun untuk mendapatkannya harus melakukan tindakan-tindakan kekerasan. “Seperti yang ditangani UPPA Polres Tulungagung. Perkelahian siswa berujung penganiayaan,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, harga diri atau self-esteem anak milenial sebagian besar dibentuk dari pergaulan teman sebaya terutama di medsos. Maka, perlakuan orang di sekitar dan di medsos sangat berdampak dalam memengaruhi psikologis anak dan remaja. “Memang belum matang berpikirnya, mereka haus subscribe, pingin di-follow, tapi sekali di-bully, mereka akan jatuh harga diri bahkan bunuh diri,” ujarnya.

Itulah pentingnya pendampingan orang tua. Orang tua harus paham pergaulan anak zaman sekarang, termasuk handphone dan di lingkungan dunia maya di mana anak beraktivitas. Melalui pendampingan, anak bisa dipahamkan jika tidak semua nilai-nilai yang diakui dan tren di kalangan komunitas tertentu dapat diterima oleh masyarakat. “Harus disadarkan untuk menjalankan kehidupan yang berkualitas melalui interaksi dan komunikasi nyata dan sportif,” ungkapnya.

(rt/iyo/did/red/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia