Selasa, 19 Mar 2019
radartulungagung
icon-featured
Features

Barongsai, Seni Tionghoa yang Tidak Membedakan Ras dan Suku (1)

23 Februari 2019, 01: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

AKULTURASI: Grup Barongsai Kelenteng Poo An Kiong yang pemainnya rata-rata pribumi.

AKULTURASI: Grup Barongsai Kelenteng Poo An Kiong yang pemainnya rata-rata pribumi. (ISTIMEWA)

Seni barongsai kini bukan sekadar menjadi hiburan warga keturunan Tionghoa. Namun, barongsai sudah membumi di Indonesia. Di Blitar, barongsai kini semakin digemari warga pribumi. Bahkan, mayoritas pemainnya malah orang pribumi.

MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH

"Hampir semua teknik gerakan pada barongsai mirip silat. Jadi, kami juga tidak begitu sulit untuk melakukannya. Tapi harus sering latihan dulu," kata pelatih silat dari Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti, Wlingi, Ndaru kepada Jawa Pos Radar Blitar saat ditemui, Rabu (20/2).

Pria 27 tahun ini mengungkapkan, gerakan pada seni tari barongsai hampir sama dengan gerakan silat kera sakti yang sudah lama ditekuninya itu. Mulai dari gerakan meloncat hingga gerakan berlari. "Gerakan pada seni barongsai lebih menantang. Apalagi harus kompak. Jika tidak, bisa jatuh," ujarnya. Pria bernama lengkap Ndaru Dwi Prasetyo Wibisono itu menjadi salah satu pemuda yang sedang gandrung barongsai. Pemuda yang memiliki dasar bela diri silat itu kini jatuh hati pada barongsai.

 Dia mulai suka pada barongsai belum lama. Yakni sekitar satu tahunan. Yakni saat melihat sebuah pertunjukkan barongsai di acara karnaval. "Saat itu saya tertarik. Kok kayak-nya menantang. Bolehlah kalau dicoba," ujar warga Kelurahan Klemunan, Kecamatan Wlingi, dalam hati kala itu.

(rt/kan/abd/red/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia