Selasa, 16 Jul 2019
radartulungagung
icon-featured
Features

Barongsai, Seni Tionghoa yang Tidak Membedakan Ras dan Suku (3 Habis)

23 Februari 2019, 03: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

AKULTURASI: Grup Barongsai Kelenteng Poo An Kiong yang pemainnya rata-rata pribumi.

AKULTURASI: Grup Barongsai Kelenteng Poo An Kiong yang pemainnya rata-rata pribumi. (ISTIMEWA)

Seni barongsai kini bukan sekadar menjadi hiburan warga keturunan Tionghoa. Namun, barongsai sudah membumi di Indonesia. Di Blitar, barongsai kini semakin digemari warga pribumi. Bahkan, mayoritas pemainnya malah orang pribumi.

MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH

 Akhirnya Ndaru dan teman-temannya, anggota perkumpulan silat kera sakti, bergabung. Ada sekitar 20 anggota yang bergabung. "Kami mulai dilatih gerakan dasar. Baik yang barongsai maupun naga liong. Latihannya setiap Jumat dan Sabtu sore," ungkap pemuda lajang ini.

 Menurutnya, bermain barongsai maupun liong itu gampang-gampang susah. Setiap gerakan dan teknik harus dipelajari dengan baik. Yang lebih sulit itu barongsai. "Sebab, bermainnya pasangan. Ini membutuhkan koordinasi. Jika tidak, bisa terjatuh," jelasnya.

 Kini jumlah pemain barongsai maupun liong yang dibina di Kelenteng Poo An Kiong mencapai sekitar 40 orang. Setiap tahun ada regenerasi. Rata-rata anggota merupakan kalangan pelajar.

 Kebanyakan anggota merupakan pribumi. Pemain keturunan Tionghoa ada, tetapi jumlahnya bisa dihitung jari. "Memang paling banyak itu warga pribuminya. Kami tidak masalah. Yang penting seni barongsai ini tetap lestari dan lebih dikenal masyarakat luas," ungkap pria ramah ini.

 Bahkan, kini pertunjukan barongsai semakin banyak dilakukan di sejumlah acara. Seperti karnaval hingga acara pemerintah untuk prosesi penyambutan tamu. Apalagi, barongsai kini ikut aktif memeriahkan kegiatan karnaval di desa-desa.

(rt/kan/abd/red/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia