Rabu, 29 Jan 2020
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Fogging Sembarangan Berakibat Nyamuk Resisten

23 Februari 2019, 14: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

CEGAH DBD: Salah satu petugas ketika lakukan fogging atau pengasapan di wilayah Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru.

CEGAH DBD: Salah satu petugas ketika lakukan fogging atau pengasapan di wilayah Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

TULUNGAGUNG – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Marmer masih menjadi perhatian penting. Meski tren kasus DBD sudah mulai menurun, masyarakat diimbau tetap waspada. Salah satu upaya untuk menekan angka kasus DBD adalah dengan melakukan fogging atau pengasapan.

Meski dapat menekan kasus DBD, ternyata fogging tidak dapat dilakukan sembarangan. Fogging harus diawasi agar nyamuk Aedes aegypti benar-benar mati. “Fogging tidak boleh sembarangan. Harus sesuai dengan ketentuan yang ada. Jika tidak, bisa jadi resisten,” terang Kasi Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung Didik Eka Jumat (22/2).

Dia melanjutkan, fogging seharusnya dilakukan oleh tenaga terlatih. Jadwal pengasapan pun juga perlu diperhatikan. Jadwal paling efektif untuk melakukan fogging adalah pada pagi atau sore hari. Karena pada jam-jam tersebut, nyamuk Aedes aegypti sedang berisitirahat.

Tak hanya itu, komposisi insektisida yang digunakan harus sesuai dengan standar World Health Organization (WHO). Pasalnya, insektisida yang digunakan tidak boleh beracun bagi manusia dan hewan peliharaan. Juga harus ramah lingkungan.

Bahkan, komposisi insektisida yang digunakan harus sesuai dengan standar. Jika tidak, bukan tidak mungkin mengakibatkan resisten pada serangga. “Ibarat obat, kalau dosis yang seharusnya sudah tidak mempan, akan resisten. Artinya, dosis akan terus naik. Ini yang bahaya,” jalasnya.

Disinggung mengenai kekhawatiran masyarakat mengenai kasus DBD, pria berkacamata ini pun menjelaskan, pencegahan DBD melalui fogging hanya akan membunuh nyamuk dewasa. Sedangkan untuk jentik dan telur nyamuk tetap diperlukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Pasalnya, masa inkubasi nyamuk dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa hanya memerlukan waktu 10 hari. Jika PSN dilakukan secara rutin, populasi nyamuk akan berkurang. Dengan demikian, angka DBD pun dapat turun.  Pasalnya, virus dengue hanya dapat bertahan pada tubuh manusia dan nyamuk Aedes aegypti. “Fogging seharusnya didahului dengan PSN. PSN ini harusnya menjadi kebiasaan. Setidaknya rutin seminggu sekali agar efektif,” tandasnya.

Dia mengimbau masyarakat untuk mulai membudayakan PSN dengan gerakan 3M plus dan juga gerakan satu rumah satu jumantik. Dalam program satu rumah satu jumatik, nantinya setiap rumah akan ada satu orang yang bertugas untuk memeriksa apakah ada jentik-jentik nyamuk di dalam lingkungan rumah. Setidaknya seminggu sekali lakukan pemeriksaan dan buang genangan air di setiap tempat yang rawan dijadikan sarang nyamuk. Membuang barang-barang yang sudah tidak terpakai agar tidak dijadikan sarang nyamuk. Menutup wadah atau tempat-tempat penampungan air agar nyamuk tidak bisa masuk dan bertelur. Serta menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan losion antinyamuk dan memasang kasa pada ventilasi.

Sekedar informasi, berdasarkan data dari Dinkes Tulungagung, sepanjang 2019 hingga pertengahan Februari tercatat sebanyak 403 kasus dengan kasus meninggal sebanyak tujuh orang. Sebagai perbandingan, sepanjang tahun 2017 terjadi sebanyak 128 kasus DBD dengan 4 kasus meninggal. Sementara pada tahun 2018, sebanyak 419 kasus dengan enam kasus meninggal. “Trennya sudah mulai turun. Masyarakat sebaiknya tetap lakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) secara rutin,” ujarnya.

(rt/did/nda/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia