Senin, 09 Dec 2019
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Kasus Kekerasan Anak Naik, Mengutamakan Komunikasi Menjadi Hal Penting

01 Maret 2019, 18: 30: 59 WIB | editor : Retta wulansari

Ilustrasi

Ilustrasi

TULUNGAGUNG – Kasus kekerasan pada anak di Kota Marmer kian meningkat. Terutama kasus kekerasan pada anak. Dari data Unit Layanan Terpadu Perlindungan Sosial Anak Integratif (ULT-PSAI) Tulungagung, di tahun 2017 tercatat sebanyak 20 kasus kekerasan pada anak. Sementara tahun 2018 meningkat menjadi 41 kasus.

Jumlah tersebut terdiri dari kasus kekerasan fisik, psikis atau mental, dan seksual. “Secara keseluruhan, kasus yang melibatkan anak memang turun. Namun untuk kasus kekerasan pada anak naik drastis,” jelas pekerja sosial ULT-PSAI, Friez Sando Winarno Ivan Kamis (28/2).

Dia melanjutkan, meningkatnya angka kekerasan pada anak bukan berarti jumlah kasusnya bertambah. Melainkan kesadaran masyarakat yang meningkat untuk melaporkan kasus kekerasan yang melibatkan anak-anak. Pasalnya, fenomena kekerasan pada anak seperti fenomena gunung es. Artinya, hanya sedikit yang nampak. Namun sebenarnya masih banyak kasus yang tersembunyi. Itu disebabkan korban masih takut melapor karena dianggap aib. “Kasus kekerasan di lapangan sebenarnya masih lebih tinggi dibandingkan data kami. Masih ada rasa takut untuk melapor,” terangnya.

Dia mengatakan, yang terpenting dari kasus kekerasan yakni kondisi psikis korban. Pasalnya, setiap korban kekerasan akan menimbulkan reaksi yang beragam. Mulai perasaan takut, cemas, hilangnya rasa percaya diri, muncul perasaan bersalah, bahkan mengalami trauma. Untuk itu, masyarakat segera melaporkan pada ULT-PSAI jika menemukan kasus kekerasan melibatkan anak-anak. “Agar mendapat penanganan yang semestinya, sebaiknya lapor pada kami,” tandasnya.

Sementara itu, konsultan psikolog, Ifada Nur Rohmaniah memaparkan, sebaiknya orang tua lebih peduli (aware) jika anak mulai menunjukkan perubahan sikap. Seperti menutup diri dan enggan bersosialisasi karena takut dan cemas. Jika sudah demikian, sebaiknya lakukan pendekatan pada anak. Mengutamakan komunikasi menjadi hal penting. Dengan demikian, anak merasa dihargai sehingga nyaman untuk menceritakan masalah yang dialami. “Orang tua sebaiknya bisa menjadi teman bagi anak dan juga lebih aware jika anak mengalami perubahan sikap,” pungkasnya.

(rt/nda/did/red/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia