Selasa, 16 Jul 2019
radartulungagung
icon-featured
Sportainment

Hipertensi sebagai Silent Killer

02 Maret 2019, 06: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

WASPADA HIPERTENSI: Salah satu pasien sedang melakukan check-up rutin di poli penyakit dalam RSUD dr Iskak.

WASPADA HIPERTENSI: Salah satu pasien sedang melakukan check-up rutin di poli penyakit dalam RSUD dr Iskak. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

TULUNGAGUNG – Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi penyakit ancaman bagi masyarakat Indonesia. Faktor keturunan (genetik) atau gaya hidup yang tidak sehat menjadi faktor generasi milenial juga rentan terserang hipertensi. Bahkan berdasarkan riset kesehatan dasar (riskesdas) tahun 2018, sebesar 13,2 persen penyumbang kasus hipertensi di Indonesia merupakan usia 18 hingga 24 tahun.

Dokter spesialis penyakit dalam, Hengki Wijaya menjelaskan, hipertensi kerap dianggap sebagai silent killer. Pasalnya, penderita hipertensi tidak merasakan gejala yang berarti. Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibedakan menjadi dua jenis. Yakni hipertensi primer atau tekanan darah tinggi tanpa diketahui penyebabnya secara jelas. Hipertensi sekunder yakni tekanan darah tinggi yang diketahui penyebabnya. “Rata-rata pasien hipertensi usia 45 tahun ke atas. Namun sekarang usia muda juga sudah mulai terserang. Jadi perlu waspada,” terangnya Rabu (27/2).

Faktor genetik, kata dia, bisa menjadi salah satu penyebab hipertensi primer. Kebiasaan pola hidup yang tidak sehat juga dapat berkontribusi untuk meningkatkan risiko terkena hipertensi.

Dia membeberkan beberapa kebiasaan buruk yang dapat menyebabkan hipertensi. Antara lain konsumsi garam yang tinggi serta tidak diimbangi dengan aktivitas luar ruangan. Asupan garam yang tinggi dapat menyebabkan ketidakseimbangan natrium alami dalam tubuh. Jadi dapat meningkatkan tekanan yang diberikan aliran darah terhadap dinding pembuluh darah. “Untuk itu, pada penderita tekanan darah tinggi disarankan untuk mengurangi makanan yang mengandung banyak garam, dan fast food,” ujarnya.

Kemudian stres juga dapat menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi. Pasalnya, pada saat mengalami stres, otak akan melepaskan hormon-hormon dalam tubuh yang dapat menyebabkan peningkatan denyut jantung.

Selain itu, obesitas atau kelebihan berat badan juga erat kaitannya dengan hipertensi. Bahkan, hal ini dianggap sebagai penyebab utama terjadinya hipertensi.

Dia menuturkan, semakin berat tubuh seseorang, tentu akan memerlukan banyak darah untuk mengantarkan suplai oksigen dan nutrisi tubuh. Karena itu, tekanan dalam arteri akan naik agar darah dapat diedarkan secara lancar. Itu membuat jantung akan bekerja keras dalam memompa. “Jantung yang dipaksa kerja ekstra lama-lama akan menimbulkan kerusakan,” jelasnya.

Tak hanya itu, jika tak segera diobati, hipertensi dapat mengakibatkan komplikasi. Komplikasi hipertensi yang sering kali terjadi adalah diabetes. Dari total pasien diabetes, sekitar 75 hingga 80 persen juga menderita hipertensi. Komplikasi umum lain yakni penyakit jantung. Bahkan penyakit jantung komplikasi hipertensi ini dapat menyebabkan kematian. Pasalnya tensi darah yang konsisten tinggi akan membuat struktur dan fungsi-fungsi jantung rusak. Penurunan fungsi ginjal juga menjadi komplikasi paling umum yang sering terjadi.

Untuk itu, dokter ramah ini mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup sehat agar menurunkan risiko hipertensi. Aktif bergerak dan berolahraga serta menjaga asupan nutrisi menjadi cara paling efektif untuk menurunkan risiko hipertensi. “Terutama terapkan gaya hidup sehat dan imbangi dengan olahraga ringan, tapi teratur. Untuk yang sudah terkena hipertensi, harap patuh dengan pengobatan,” pungkasnya. 

(rt/nda/did/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia