Senin, 18 Nov 2019
radartulungagung
icon-featured
Trenggalek

Masih Terus Dihantam Bencana, Kota Dikepung Banjir 18 Jam

Akses Keluar Masuk Trenggalek Sulit Dilalui

08 Maret 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

BERBAHAYA: Beberapa anak muda sedang melewati gang yang tergenang air hingga kedalaman 1,5 meter di Dusun Grojogan, Desa Ngadirenggo, Kecamatan Pogalan Kamis (7/3).

BERBAHAYA: Beberapa anak muda sedang melewati gang yang tergenang air hingga kedalaman 1,5 meter di Dusun Grojogan, Desa Ngadirenggo, Kecamatan Pogalan Kamis (7/3). (DHARAKA R. PERDANA/RADAR TRENGGALEK)

TRENGGALEK – Bencana alam tampaknya terus menerjang sebagian Kota Keripik Tempe ini. Indikasinya, libur nasional yang bertepatan dengan perayaan Hari Raya Nyepi Kamis (7/3) beberapa desa di tujuh kecamatan dilanda banjir dan longsor setelah diguyur hujan sejak Rabu (6/3) malam-Kamis (7/3) siang.

Ini disebabkan beberapa sungai meluap, sehingga air menggenangi jalan maupun pemukiman warga di beberapa desa yang berbatasan dengan Kota Trenggalek. Kondisi tersebut membuat Kota Trenggalek dikepung banjir selama 18 jam, mulai pukul 19.00, pada Rabu (6/3) sampai pukul 12.00 Kamis (7/3). Tak pelak hal itu membuat akses keluar –masuk ke wilayah kota sulit dilalui.

Masyarakat yang hendak keluar maupun masuk ke Trenggalek harus melewati banjir di daerah perbatasan. Mereka yang menggunakan roda dua atau sepeda motor harus bersusah payah menerjang banjir tersebut. Sedangkan pengendara roda empat harus tetap hati-hati.   

Tidak hanya itu, tanah longsor juga merusak beberapa rumah warga. “Sejak Rabu malam banyak terjadi bencana alam di kabupaten ini,” kata Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek Djoko Rusianto, Kamis (7/3).

Menurut dia, bencana alam yang paling banyak terjadi adalah banjir. Ini  dipicu meluapnya Sungai Ngasinan maupun sungai lainnya di Bumi Menak Sopal. Di mana sebelumnya, hujan deras mengguyur sejak Rabu sore, bahkan pada malamnya juga sempat gerimis. “Curah hujan kali ini memang cukup luar biasa, karena intensitasnya tinggi. Alhasil, sungai pun tidak mampu menampung debit air yang berasal dari,” jelasya.  

Dari data yang dihimpun Koran ini dari berbagai sumber, yang pertama kali merasakan dampak dari meluapnya Sungai Ngasinan di wilayah perkotaan adalah Dusun Punjung, Kelurahan Kelutan sekitar pukul 18.00. Tidak lama berselang, meluas dan menggenangi Jalan Soekarno-Hatta hingga selutut orang dewasa. Hingga akhirnya menyebar ke pemukiman warga.

Satu jam berselang sekitar 19.00, saat air di Kelutan mulai surut, genangan berpindah ke Desa Ngadirenggo, Kecamatan Pogalan. Genangan pun semakin menyebar hingga keesokan paginya ke desa lain. Di mana genangan yang ditemukan ada yang mencapai dua meter.

Djoko-sapaan akrabnya-, melanjutkan, selain banjir, ada juga tanah longsor yang menimpa rumah warga. Beruntung pada kejadian itu tidak ada korban jiwa dan hanya menyebabkan kerusakan di beberapa bagian rumah warga. “Tanah longsor terjadi di tiga kecamatan dan tidak ada korban jiwa,” terangnya.

Di lokasi terpisah, Bagus Kresna, warga Desa Ngadirenggo, Kecamatan Pogalan mengatakan, banjir yang menggenangi desanya biasanya bersifat air kiriman dari Kelutan. Jika bagian barat sudah mulai surut, genangan berpindah ke desa domisilinya itu. Namun untuk kali ini agak berbeda karena arusnya lebih besar dibanding pada 2006 atau 13 tahun lalu,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan, Sugeng Bejo, salah satu pedagang di Panggul. Ruas jalan utama di dekat kantor kecamatan setempat juga sering digenangi air, tak terkecuali usai hujan deras mengguyur wilayah setempat sejak Rabu sore. “Cukup sering juga digenangi air ruas jalan utama di pusat kota Panggul,” ujarnya.

(rt/rak/dre/red/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia