Kamis, 12 Dec 2019
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Ratusan Hektare Terdampak Banjir

09 Maret 2019, 16: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

TERANCAM GAGAL PANEN: Tampak sawah di Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, sudah lalu setelah terendam air.

TERANCAM GAGAL PANEN: Tampak sawah di Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, sudah lalu setelah terendam air. (EKO SUSANTO FOR RATU)

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya terkait banjir yang melanda sejumlah wilayah di Tulungagung, area persawahan di Kota Marmer ini tak luput dari dampak banjir. Bahkan, luas lahan yang terendam air diperkirakan mencapai ratusan hektare.   

Koordinator Penanggulangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian (Disperta) Tulungagung Gatot Rahayu mengaku, tercatat lahan persawahan di 11 kecamatan terdampak banjir. Terparah di Kecamatan Boyolangu dan Rejotangan.

Berdasarkan laporan yang diterima disperta, di  Kecamatan Boyolangu ada di Desa Waung 142 hektare; Gedangsewu 64 hektare; Kepuh 15 hektare, Kendalbulur 70 hektare; dan Ngranti 20 hektare. Di Rejotangan, ada di Desa Sumberagung 15 hektare; Karangsari 72 hektare; dan Tegalrejo 10 hektare.

Meski begitu, disperta belum memastikan gagal panen atau belum. Sebab, ancaman gagal panen ketika padi terendam air selama tiga hari. “Masih sebatas pendataan lahan terdampak banjir,” tandasnya.

Dia mengatakan, ada ancaman gagal panen lantaran terendam air. Yakni ketika air keruh karena memengaruhi proses fotosintesis. “Kalau air keruh, risiko padi gagal panen tinggi,” tandasnya.

Dia menjelaskan, petani ikut asuransi usaha tani bisa mengklaim Rp 6 juta per satu hektare tanah jika gagal panen. Namun jika petani tak ikut asuransi, menunggu pemerintah kabupaten memberikan benih sekitar 25 kilogram (kg). “Kalau tak ikut asuransi, biasanya petani merugi untuk biaya operasional,” jelasnya.

Pemilik sawah di Desa Waung, Rianto mengaku resah lantaran sudah tiga hari, sawahnya terendam air. Padahal, biasanya padi tergenang air selama itu sudah mulai layu. “Lahan seluas 125 ru tak tampak lagi sawahnya,” ungkap kemarin (8/3).

Jerih payah selama ini bisa sia-sia jika padi gagal panen. Biaya operasional juga sudah dikucurkan untuk beli pupuk 3 kuintal, benih 10 kg, obat, maupun upah pekerja tanam, termasuk matun dan bajak tanah. Sekitar Rp 2 juta sudah dihabiskan untuk biaya tersebut. “Padahal, padi mulai buah karena umurnya sudah 50 hari,” tandasnya.

Rohmin, pemilik sawah lainnya juga mengalami hal serupa. “Sudah tak kuat memikirkan sawah karena kondisinya sudah terendam air beberapa hari,” ungkapnya.

Dia belum mengikuti asuransi petani karena mayoritas petani di desa itu juga tak ada yang ikut asuransi. “Saya tahu ada asuransi petani, tapi tak ikut karena petani lain juga tak ada yang ikut,” katanya.

(rt/pur/did/red/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia