Senin, 09 Dec 2019
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Nikah Dini Berisiko Bayi Stunting

09 Maret 2019, 19: 00: 59 WIB | editor : Retta wulansari

SEHAT: Pernikahan dini berisiko terhadap kesehatan bayi. Sebab, orang tua masih remaja sering abai tentang kesehatan.

SEHAT: Pernikahan dini berisiko terhadap kesehatan bayi. Sebab, orang tua masih remaja sering abai tentang kesehatan. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

TULUNGAGUNG – Persoalan pernikahan di bawah umur masih menjadi polemik bagi masyarakat. Selain berpengaruh pada psikologis anak, juga kesehatan. Salah satunya, masalah stunting atau kekurangan gizi kronis.

Berdasarkan data Kementerian Agama (Kemenag) Tulungagung, sepanjang 2017 tercatat sebanyak 174 kasus pernikahan dini. Sementara pada 2018, menurun sebesar 133 kasus. “Untuk 2019 hingga Februari, ada 19 kasus. Trennya mulai turun,” ujar Kasi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Tulungagung Abdul Choliq, Kamis (7/3).

Meski mengalami penurunan kasus, tetap perlu diwaspadai agar tidak meningkat kembali.

Dia menuturkan, yang disebut dengan pernikahan dini adalah pernikahan di bawah umur. Bagi perempuan di bawah 16 tahun dan laki-laki di bawah 19 tahun.

Kesadaran terhadap pentingnya pendidikan menjadi salah satu faktor menurunnya angka pernikahan dini.

Tak hanya itu, menurunnya kasus married by accident (MBA) juga turut berpengaruh pada kasus pernikahan usia dini. “Memang rata-rata kasus pernikahan dini disebabkan kasus MBA yang juga tinggi,” terangnya.

Dia mengimbau pada orang tua untuk selalu memberikan pengawasan dan kontrol pada anak-anak. Terutama usia remaja. Pasalnya, usia remaja menjadi masa transisi anak dari masa anak-anak menuju dewasa.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Lis Wulandari mengungkapkan pentingnya edukasi pada remaja mengenai risiko kehamilan usia dini. Kehamilan yang tidak direncanakan dengan baik mengakibatkan sang calon ibu cenderung abai dengan kesehatan. Ini akan berdampak baik bagi kesehatan sang ibu maupun sang calon bayi. “Penting untuk memberikan edukasi terutama bagi remaja. Ini untuk memutus rantai stunting itu,” pungkasnya.

Tak hanya berisiko stunting, abai terhadap kesehatan juga dapat berisiko bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Jika sudah demikian, daya tahan bayi mengalami kekurangan sehingga mudah terserang penyakit.

Wanita ramah ini menambahkan, kehamilan pada usia dini juga berdampak pada psikologis sang ibu. “Secarapsikologis belum siap dengan kehamilan, kemungkinan untuk abai dengan kesehatan juga lebih besar. Ini yang harus dicegah dan diputus rantainya,” jelasnya.

(rt/nda/did/red/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia