Senin, 18 Nov 2019
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Tanggul Jebol Mulai Ditutup Warga Agar Air Tidak Meluber

11 Maret 2019, 01: 00: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

PEMBENAHAN : Warga saat melakukan penutupan tanggul yang jebol.

PEMBENAHAN : Warga saat melakukan penutupan tanggul yang jebol.

 TULUNGAGUNG- Memasuki hari ketiga pascabanjir, di Desa Waung, Kecamatan Boyolangu yang diterjang banjir, kini genangan air berangsur surut. Semula dua dusun diterjang banjir, kini genangan air hanya tersisa di satu titik di Dusun Krajan. Hal itu diungkapkan Eko Wahoyo, Kepala Desa (Kades) Waung, Kecamatan Boyolangu.

Menurut dia, sampai hari ini (Sabtu, Red) genangan air surut 15 sentimeter (cm) dari semula 30 cm. Titik genangan itu berada di RW 3 dan 4. “Jarak kedua RW dengan tanggul jebol memang paling dekat sehingga genangan air belum surut sepenuhnya,” ungkapnya.

Meski begitu, kondisi rumah di titik banjir tak semua terendam air. Sebab, ada beberapa rumah berfondasi tinggi sehingga tak semua terendam air. “Ada beberapa warga yang masih stay di rumahnya karena air tak sepenuhnya masuk rumah,” katanya.

Dia mengaku cuaca selama dua hari belakang memang tak ada hujan. Jadi genangan air di Desa Waung berangsur surut. Selain itu, debit air di sungai Ludagung-Tulungagung (Ludagung) yang rendah, membuat arus sungai yang masuk Desa Waung berkurang. “Semoga saja curah hujan tak tinggi lagi,” tuturnya.

Kepala Urusan (Kaur) Perencanaan Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, Eko Susanto mengatakan, hari ini (kemarin, 9/3), pemdes, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), maupun warga bergotong royong untuk menutup tanggul yang jebol.

Dia melanjutkan, penutupan tanggul dengan menancapkan beberapa bambu di sisi utara dan selatan tanggul yang jebol. Kemudian diikat dengan kawat besi dan diberi bethek (pagar bambu, Red) sebelum akhirnya sak berisi tanah ditaruh di tengah-tengah tanggul. “Sak berisi tanah itu ditaruh di tengah agar tak bergerak ke mana-mana,” tandasnya.

Kendati demikian, penutupan tanggul terkendala dalamnya air mencapai tiga meter. Jadi ketika warga menancapkan bambu, jadi kesulitan. Apalagi palu besi yang digunakan untuk menancapkan bambu sempat patah. “Risiko tetap ada, warga yang menancapkan bambu sampai tak terlihat karena air begitu dalam. Namun terbantu arus sungai yang lemah sehingga risiko hanyut berkurang,” jelasnya.

Pria ramah itu mengaku, melihat kondisi sekarang, penutupan tanggul tak bisa selesai sepenuhnya. Pasalnya, memang butuh tenaga yang banyak. Apalagi tamu-tamu dari dinas terkait silih berganti berdatangan. Jadi tak bisa konsentrasi menutup tanggul jebol.

Kasi Logistik dan Kebencanaan BPBD Tulungagung Nursono mengatakan, personel yang dikerahkan di Desa Waung sejumlah delapan orang. Para personel tersebut sudah sejak pagi membantu warga mengisi sak tanah untuk menutup tanggul jebol. “Sudah sejak dua hari yang lalu BPBD turut mengisi sak dengan tanah,” ungkapnya.

(rt/pur/did/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia