Minggu, 21 Jul 2019
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

68 Warga Masih Mengungsi Akibat Banjir Menerjang Satu Dusun

11 Maret 2019, 02: 00: 59 WIB | editor : Didin Cahya FS

MUSIBAH : Pengungsi di Desa Waung, Kecamatan Boyolangu.

MUSIBAH : Pengungsi di Desa Waung, Kecamatan Boyolangu. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TULUNGAGUNG)

TULUNGAGUNG- Nasib pengungsi akibat banjir yang menerjang Dusun Krajan, Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, masih berada di rumah warga tak terdampak Nasib pengungsi akibat banjir yang menerjang Dusun Krajan, Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, masih berada di rumah warga tak terdampakMeski sudah tiga hari mengungsi, kondisi pengungsi sehat dan tercukupi kebutuhan makan, Sabtu  (9/3).

Pemilik rumah darurat pengungsi, Naris mengungkapkan, warga yang mengungsi di rumahnya ada sekitar 17 keluarga. Jumlah tersebut mencakup 68 pengungsi. “Dari hari pertama banjir menerjang, beberapa warga silih berganti mengungsi di rumah,” ungkap warga Dusun Krajan, Desa Waung, Kecamatan Boyolangu itu.

Mayoritas pengungsi hanya bermalam. Kalau pagi sampai sore biasanya mereka pulang. Jadi pengungsi tak seharian mengungsi. “Biasanya mereka sekadar mengecek rumah atau membersihkannya,” katanya.

Dia mengaku tak keberatan dengan keberadaan pengungsi di rumahnya. Malah acap kali pengungsi yang tak enak hati mengungsi di rumahnya. “Banyak yang merasa sungkan karena merasa menumpang, padahal saya tak merasa keberatan,” tuturnya.

Kebutuhan makan pengungsi hari pertama dan kedua masih ditanggung pemilik rumah. Sebab, kebanyakan pengungsi tak bisa masak di rumah lantaran dapurnya terendam air. “Saya yang memasakkan untuk kebutuhan pengungsi. Saya pun ikhlas dengan itu,” ujarnya.

Menjelang hari kedua, sekitar pukul 10.00, Jumat (8/3), datang bantuan dapur umum (DU) dari dinas sosial (dinsos) melalui relawan Tagana Tulungagung. Meski kedatangannya sedikit terlambat, kebutuhan makan pengungsi lebih terjamin. “Sebenarnya waktu krusial ketika hari pertama banjir. Sebab, warga maupun pengungsi masih panik. Jadi kebutuhan makan mereka belum terkendali,” jelasnya.

Dia tak menampik, bantuan DU untuk mencukupi kebutuhan logistik dari dinsos tetap dibutuhkan pengungsi maupun warga yang tak bisa masak.

Koordinator Bagian dan Operasional Tagana Tulungagung Imam Safi’i tak menampik kedatangan bantuan sedikit telat. Itu lantaran harus melalui beberapa prosedur sehingga membuat relawan Tagana Tulungagung datang pada hari kedua pukul 10.00 pascabanjir di Desa Waung. “Banjir juga melanda di lain tempat sehingga dibagi menjadi dua tim. Yakni di Kecamatan Pucanglaban dan Boyolangu,” katanya.

Dia menambahkan, lantaran kondisi di Pucanglaban sudah terkendali, tak perlu mendirikan DU. Tim difokuskan di Desa Waung, Kecamatan Boyolangu.

(rt/pur/did/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia